Efek Produksi Gula ‘Disunat’ 400.000 Ton, Ramalan Baru?

by -135 Views
Efek Produksi Gula ‘Disunat’ 400.000 Ton, Ramalan Baru?

Jakarta, CNBC Indonesia – Badan Pangan Nasional (Bapanas) memangkas estimasi produksi gula tahun ini sebanyak 300.000-400.000 ton. Di maba, produksi gula tahun ini awalnya diprediksi mencapai 2,6 juta ton.

“Akibat El Nino diperkirakan terjadi potensi penurunan produksi dari estimasi awal 2,6 juta ton menjadi sekitar 2,2 – 2,3 juta ton,” kata Deputi bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa dalam keterangan resmi, Kamis (9/11/2023).

Hal itu, jelasnya, menjadi salah satu pertimbangan Bapanas kemudian meminta peritel modern menaikkan harga eceran gula konsumsi sebesar Rp1.500. Keputusan menaikkan harga eceran di ritel modern itu disebut sebagai hasil rapat koordinasi lintas kementerian dan lembaga pada tanggal 31 Oktober 2023 lalu.

“Sementara realisasi impor gula kristal mentah (GKM/ raw sugar) baru sebesar 180.000 ton atau sekitar 22,61% dan gula kristal putih (GKP) sebesar 126.941 ton atau 58,82%,” tuturnya.

“Realisasi impor yang masih minim juga disebabkan beberapa perusahaan yang memiliki kuota impor GKM masih belum ada realisasi (0,00%). Hal ini antara lain karena tingginya harga gula internasional sehingga tidak menjangkau untuk penjualan sesuai harga acuan penjualan tingkat konsumen di dalam negeri,” ungkap Ketut.

Seperti diketahui, Bapanas melalui surat tertanggal 3 November 2023 kepada pimpinan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) dan Dewan Himpunan Peritel & Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) meminta agar dilakukan penyesuaian harga gula.

Harga gula di tingkat konsumsi dinaikkan menjadi Rp16.000 per kg dari harga acuan sebelumnya yang dipatok Rp14.500 per kg pada Juli 2023 lalu.

Sebagai catatan, harga tersebut berlaku untuk wilayah selain Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, Papua Pegunungan, Papua Tengah, Papua Selatan, Papua Barat Daya, serta wilayah 3 TP (tertinggal, terluar, terpencil, dan perbatasan). Di mana, harga untuk 9 lokasi ini dipatok lebih tinggi Rp1.000 per kg. Dari sebelumnya Rp15.500 per kg kini menjadi Rp17.000 per kg.

“Sehubungan dengan adanya kenaikan harga gula di dalam negeri maupun internasional, maka telah dilakukan rapat koordinasi lintas kementerian dan lembaga untuk membahas harga gula yang wajar di tingkat konsumen. Berdasarkan hasil input tersebut, kami mengimbau seluruh pelaku usaha ritel mengimplementasikan relaksasi harga dimaksud,” kata Ketut.

“Ke depan pelaku usaha ritel bisa menjual gula konsumsi dengan harga 16 ribu rupiah per kilogram. Fleksibilitas ini akan terus dievaluasi secara berkala sampai harga gula kembali ke level wajar,” pungkasnya.

[Gambas:Video CNBC]