Tahun Naga membawa kabar baik bagi China. Tingkat kelahiran di negara tersebut diproyeksikan meningkat setidaknya untuk tahun ini dan membantu mengatasi krisis populasi yang tengah terjadi. Media keuangan Yicai melaporkan bahwa semakin banyak bayi yang dilahirkan di rumah sakit di seluruh Tiongkok pada Tahun Naga. Shio Naga diyakini sangat membawa keberuntungan, dan data dari rumah sakit selama Tahun Baru Imlek yang dimulai pada 10 Februari menunjukkan bahwa jumlah bayi baru lahir telah meningkat “secara signifikan”.
Surat kabar tersebut mengutip sebuah rumah sakit di Wuxi, di China timur, melaporkan peningkatan jumlah bayi baru lahir sebesar 20% dibandingkan tahun lalu, sementara sebuah rumah sakit di provinsi barat laut Shaanxi melaporkan peningkatan kelahiran baru sebesar 72% dibandingkan tahun 2023. Tingkat pernikahan di China sangat erat kaitannya dengan tingkat kelahiran karena para ibu yang belum menikah sering kali tidak mendapatkan tunjangan pengasuhan anak, dan tahun lalu, jumlah pencatatan pernikahan meningkat untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, karena terhambatnya pandemi.
Para pengambil kebijakan di China khawatir dengan penurunan angka kelahiran di populasi yang menua dengan cepat, dan Presiden Xi Jinping mengatakan tahun lalu bahwa perlu untuk “secara aktif menumbuhkan budaya baru dalam pernikahan dan melahirkan anak” untuk pembangunan nasional. Namun, banyak generasi muda yang memilih untuk tetap melajang atau menunda pernikahan karena prospek pekerjaan yang buruk, tingginya angka pengangguran di kalangan muda, dan rendahnya kepercayaan konsumen seiring dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi di negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia tersebut.
Namun, para ahli demografi mengatakan ledakan “bayi naga” kemungkinan hanya akan berlangsung singkat karena makin banyak perempuan yang memilih untuk tidak memiliki anak karena tingginya biaya perawatan anak serta keengganan untuk menikah atau menunda karir mereka. Xi mengatakan perempuan harus memprioritaskan menceritakan “kisah tradisi keluarga yang baik.” Namun, membesarkan anak menyebabkan berkurangnya jam kerja dan tingkat upah perempuan, sementara mata pencaharian laki-laki sebagian besar tidak berubah, menurut sebuah studi yang dilakukan oleh lembaga kebijakan Beijing minggu ini.