Waspada: WHO Darurat Wabah Ebola Global

by -68 Views

WHO Mengekspresikan Kekhawatiran Mendalam Atas Wabah Ebola di Kongo

Jakarta, CNBC Indonesia – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi menyuarakan kekhawatiran mendalam atas skala dan kecepatan penyebaran wabah virus Ebola yang mematikan di Republik Demokratik Kongo (DRC). Badan kesehatan di bawah naungan PBB tersebut memperingatkan bahwa penanganan krisis kesehatan ini berpotensi memakan waktu yang sangat lama.

Lonjakan Kasus dan Peringatan Kedaruratan Kesehatan Internasional

Melansir Channel News Asia, WHO melaporkan pada Selasa (19/05/2026) bahwa lonjakan kasus demam berdarah yang sangat menular ini telah ditetapkan sebagai darurat kesehatan internasional. Merespons situasi darurat tersebut, badan PBB ini langsung menyerukan pertemuan mendesak untuk membahas langkah-langkah penanggulangan krisis.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengungkapkan rasa was-was yang mendalam melihat perkembangan penyebaran virus yang berjalan sangat masif di lapangan. Karakteristik penularan kali ini dinilai jauh lebih agresif dibandingkan sebelumnya.

Situasi di Lapangan dan Keterbatasan Pengujian

Kondisi di lapangan semakin mengkhawatirkan lantaran belum ada vaksin atau pengobatan terapeutik yang tersedia untuk strain Bundibugyo, jenis virus Ebola yang bertanggung jawab atas wabah yang dideklarasikan akhir pekan lalu. Sebagai catatan sejarah, virus Ebola sendiri telah merenggut lebih dari 15.000 jiwa di daratan Afrika dalam kurun waktu setengah abad terakhir.

Mengingat kasus-kasus terbaru sebagian besar terkonsentrasi di daerah terpencil yang sulit diakses dan dilanda konflik berkepanjangan, pengujian laboratorium baru bisa dilakukan pada sedikit sampel. Oleh karena itu, angka statistik yang dirilis sejauh ini sebagian besar masih didasarkan pada perhitungan kasus suspek.

Keterlibatan Pihak Berwenang dan Upaya Penanggulangan

Menteri Kesehatan Kongo, Samuel Roger Kamba, terus melakukan pelacakan aktif di tengah keterbatasan fasilitas medis. Pemerintah kongo mencatat sekitar 131 kematian dan 513 kasus suspek. Data angka kematian tersebut mencakup seluruh jenazah yang diidentifikasi langsung di lingkungan masyarakat, tanpa menegaskan bahwa semuanya terkait dengan Ebola.

Perwakilan WHO, Anne Ancia, menyatakan bahwa ada kandidat vaksin bernama Ervebo yang tengah diteliti intensif, namun prediksi ketersediaan vaksin tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama. Hal ini menunjukkan bahwa perang melawan penyebaran wabah Ebola tidak akan berakhir dalam waktu singkat.

Konflik Bersenjata sebagai Tantangan Penanganan Krisis

Sebagai pusat penambangan emas, wilayah dampak wabah di Provinsi Ituri memiliki mobilitas tinggi dan konflik milisi lokal, membuat penanganan medis semakin terkendala. Virus Ebola menyebar ke provinsi tetangga dan bahkan ke Uganda. Keterlambatan deteksi dikarenakan masyarakat menganggap penyakit ini sebagai mistis sehingga identifikasi awal lambat.

Kepala Delegasi ICRC di DRC, Francois Moreillon, menegaskan bahwa stabilitas keamanan menjadi tantangan utama dalam penyaluran bantuan kemanusiaan. Akses kemanusiaan dan koordinasi antar pihak terkait, terutama yang bertikai dalam konflik, menjadi hambatan bagi respons penanganan krisis.

Source link