Perang Iran Mengacaukan Strategi AS: Chaos Manuver Zig-zag

by -89 Views

Trump Bermain Zig-zag Terjebak di Perang Iran

Perubahan sikap Presiden Donald Trump terhadap konflik dengan Iran dalam hitungan hari memperlihatkan betapa rumitnya perang yang kini menyeret Amerika Serikat ke dalam kebuntuan strategis di Timur Tengah. Dari ancaman perang, operasi militer di Selat Hormuz, hingga kembali membuka ruang damai, arah kebijakan Washington berubah cepat seiring tekanan ekonomi dan politik yang terus membesar.

Project Freedom: Antara Operasi Militer dan Diplomasi

Akhir pekan lalu, Trump masih berbicara keras soal Iran dan menegaskan bahwa Teheran belum “membayar harga yang cukup besar”. Namun pada Selasa (5/5/2026), Gedung Putih meluncurkan “Project Freedom”, operasi yang disebut sebagai “gerakan kemanusiaan” untuk membantu kapal-kapal yang terjebak keluar dari Teluk sekaligus melemahkan kendali Iran atas Selat Hormuz.

Hanya beberapa jam kemudian, nada Trump berubah lagi. Pada Rabu dini hari, ia mengumumkan adanya kemajuan besar menuju kesepakatan damai.

Kendala dalam Negosiasi dan Diplomasi

Meski terlihat berubah-ubah, ketiga pendekatan Trump yang terdiri dari tekanan militer, operasi maritim, dan diplomasi, dinilai berangkat dari kenyataan yang sama, yakni rezim Iran tampaknya tidak akan runtuh ataupun menyerah pada hak pengayaan uranium hanya karena dibombardir.

Teheran telah membuktikan kemampuannya menutup Selat Hormuz, dan blokade total di Teluk justru ikut melukai ekonomi AS sendiri.

Laporan dari Axios dan Reuters menyebut AS, Iran, dan mediator dari Pakistan semakin dekat pada kesepakatan berupa memorandum of understanding (MoU) satu halaman.

Iran sebelumnya juga menawarkan moratorium pengayaan uranium selama lima tahun, sedangkan AS menuntut 20 tahun. Proposal terbaru disebut mengarah pada kompromi sekitar 12 hingga 15 tahun.

Namun agenda tersebut dinilai sangat ambisius dan rawan gagal di banyak titik. Meski kedua pihak tampaknya tidak ingin kembali berperang, keduanya juga diyakini merasa bahwa tekanan militer tambahan dapat memperkuat posisi tawar di meja negosiasi.

Source link