Mendalami Kisah Wusi Tungkau Nansarunai: Jiwa yang Tak Pernah Runtuh

by -111 Views

Pementasan Sendratari “Wusi Tungkau Nansarunai” Menghidupkan Kembali Memoar Bangsa Dayak Ma’anyan

Di bawah cahaya lampu panggung UPT Taman Budaya Kalimantan Tengah pada malam Jumat (1/5/2026), sebuah memoar kolektif bangsa Dayak Ma’anyan dihidupkan kembali melalui pementasan sendratari. Pementasan ini bukan hanya sekadar gerak tari, tapi juga sebagai refleksi mendalam tentang kehancuran, hawa nafsu, dan kekuatan untuk bangkit dari puing-puing sejarah.

Penjaga identitas sejarah yang tak pernah pudar

Kisah ini berawal dari kejayaan Kerajaan Suku Dayak Ma’anyan yang telah berdiri sejak zaman prasejarah sebelum akhirnya runtuh. Dalam pementasan “Wusi Tungkau Nansarunai”, cerita Kerajaan Nansarunai yang hidup dalam harmoni sempurna di bawah kepemimpinan Amah Jarang menjadi pusat perhatian.

Produser pementasan, Alfirdaus, menjelaskan bahwa konflik “Nansarunai Usak Jawa” pada masa lampau menjadi pemicu kehancuran peradaban Nansarunai. Melalui pesan filosofis yang kuat, pementasan ini menyoroti pentingnya pengendalian diri dalam menghadapi hawa nafsu dan dampaknya terhadap keberlangsungan sebuah peradaban.

Memelihara akar budaya untuk masa depan yang lebih baik

Ratusan penonton yang hadir dalam pementasan ini disuguhkan dengan momen-momen memilukan ketika Suku Dayak Ma’anyan harus melakukan eksodus ke hutan Barito demi menyelamatkan diri. Meskipun menggambarkan kehancuran fisik, pementasan ini tetap memberikan pesan universal bahwa bangkit dari kehancuran merupakan bagian dari sebuah perjalanan bangsa.

Alfirdaus menegaskan bahwa Nansarunai, meski sudah rata dengan tanah, tetap hidup dalam jiwa masyarakat Dayak Ma’anyan. Pementasan sendratari ini diharapkan dapat menjadi cermin bagi generasi muda untuk menjaga akar budaya dan sejarah mereka di tengah arus modernisasi yang terus menggempur.

Sebagai penutup, Alfirdaus menegaskan bahwa meski Nansarunai mungkin hanya tinggal dalam sejarah, jiwa dan identitasnya tetap hidup dalam setiap individu Dayak Ma’anyan. Malam itu, panggung UPT Taman Budaya menjadi saksi bahwa melalui seni dan budaya, luka masa lalu dapat menjadi kekuatan yang membangun semangat baru.

Source link