AIHII Jabodetabek Perkuat Peran Anak Muda dalam Diplomasi Pemikiran

by -94 Views

Wacana tentang potensi pecahnya perang dunia menjadi pembahasan yang kerap mengemuka di ruang-ruang publik akhir-akhir ini, baik melalui media sosial maupun percakapan di lingkungan kampus dan masyarakat. Hal tersebut menjadi landasan diadakan IR Youth Talks#1 oleh AIHII Chapter Jabodetabek sebagai upaya merespons keresahan generasi muda terhadap dinamika global.

Acara yang digelar pada 21 April 2026 di Auditorium Suwantji Sisworahardjo, FISIP UI, menghadirkan diskusi terbuka yang berfokus pada isu “Indonesia dalam Dinamika Geopolitik Global”. Kegiatan ini dihadiri mahasiswa lintas universitas yang ingin mencari pemahaman lebih dalam mengenai tantangan dan peluang yang dihadapi Indonesia di tengah pusaran isu dunia yang kompleks.

Diskusi diawali dengan pemaparan dari Anggy Pasaribu, jurnalis sekaligus pendiri Story of Anggy. Ia membuka forum dengan pertanyaan reflektif: apakah kekhawatiran mengenai perang dunia benar memiliki dasar yang kuat, atau justru dominan dipengaruhi narasi yang berkembang di masyarakat.

Alih-alih mendorong peserta untuk panik, Anggy menantang setiap individu untuk kritis dan tidak larut oleh asumsi. Baginya, memahami peta permasalahan dunia harus dilakukan tanpa prasangka dan tidak tergesa-gesa dengan opini yang belum tentu benar.

Brigjen TNI Aloysius Nugroho Santoso dari Lemhannas RI menambahkan bahwa generasi muda sebaiknya tidak termakan isu yang belum jelas. Fokus utama bukan memperkirakan kapan perang akan terjadi, melainkan memperkuat kesiapan nasional dalam menghadapi segala krisis global yang kemungkinan muncul secara mendadak.

Ia menegaskan bahwa Lemhannas terus memantau dan memetakan potensi ancaman menggunakan metode net assessment, penyusunan skenario, dan penilaian titik rawan nasional. Hal ini bertujuan agar Indonesia mampu meminimalkan dampak buruk dari ketidakpastian global, baik dalam bidang energi, ketahanan pangan, maupun aspek geopolitik di kawasan Indo-Pasifik yang kian dinamis.

Indonesia, menurut hasil kajian Lemhannas, memiliki sejumlah kerentanan, salah satunya ketergantungan tinggi pada impor energi dan pangan, serta lokasi geografis yang menjadikan negara ini sangat strategis namun juga rentan dalam percaturan global.

Setiap perubahan di level internasional, seperti konflik geopolitik atau fluktuasi harga komoditas, berpotensi memberikan efek instan pada kondisi ekonomi, keamanan, dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Dalam menghadapi itu, Aloysius menekankan pentingnya memperkuat ideologi bangsa sebagai pijakan utama. Menurutnya, Pancasila memberikan ketahanan komunitas nasional terhadap tekanan eksternal, bukan hanya mengandalkan aspek ekonomi atau militer semata.

Broto Wardoyo, Ketua Departemen Ilmu Hubungan Internasional UI, menyoroti pentingnya melihat isu dunia secara konseptual. Ia mendorong mahasiswa agar tidak terjebak sikap reaktif, melainkan mengkaji gejolak global sebagai proses evolusi sistem internasional dan bagian dari krisis multidimensi yang saling terhubung.

Broto juga menyinggung bahwa perubahan kebijakan negara adidaya seperti yang dilakukan oleh figur seperti Donald Trump mampu mempercepat gelombang ketidakpastian dan menambah kompleksitas sistem dunia. Ia memperkenalkan strategi resilience-based hedging, yaitu pendekatan yang menitikberatkan pada fleksibilitas membangun aliansi eksternal sembari memperkuat daya tahan domestik.

Dengan strategi tersebut, Broto menilai bangsa Indonesia bisa lebih tangguh dalam merespons tantangan apapun, mulai dari rivalitas global hingga krisis berlapis yang mungkin berulang di masa depan.

IR Youth Talks#1 menjadi ajang berkumpulnya berbagai pemangku kepentingan, mulai dari dosen, pakar, mahasiswa, hingga tokoh masyarakat. Forum ini terlaksana lewat kolaborasi enam perguruan tinggi anggota AIHII Chapter Jabodetabek, termasuk UI, Universitas Pertamina, BINUS, Universitas Prof. Dr. Moestopo, Universitas Jayabaya, dan Universitas Budi Luhur.

Jeanne Francoise mewakili AIHII menekankan bahwa forum seperti ini diharapkan bisa memperluas akses generasi muda terhadap kajian-kajian strategis dan membangkitkan semangat kolaboratif lintas kampus. Topik pembahasan global tidak lagi eksklusif milik para akademisi, tetapi harus menyentuh anak muda yang akan menjadi ujung tombak masa depan bangsa.

Diskusi juga menyoroti pentingnya ruang debat yang sehat dan saling menghargai. Anggy Pasaribu menegaskan bahwa setiap bentuk kritik harus disampaikan secara sopan dan dalam forum yang relevan, agar pelajaran dan solusi yang muncul benar-benar dapat dibangun bersama.

Ia menambahkan bahwa partisipasi pemuda dalam perumusan isu publik tidak harus selalu dalam bentuk tindakan agresif. Pemahaman mendalam dan komunikasi yang bertanggung jawab menjadi langkah awal untuk membentuk gerakan yang konstruktif di tengah ketidakpastian dunia.

Di penghujung acara, ditegaskan kembali bahwa dunia terus berubah dan penuh risiko, namun bukan kecemasan yang harus dijadikan basis sikap. Kesiapan mental dan kemampuan membaca situasi menjadi keunggulan utama dalam menghadapi segala kemungkinan di era penuh tantangan.

Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Soroti Risiko Global Bagi Anak Muda
Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Bahas Isu Perang Dunia, Anak Muda Diminta Siap Hadapi Risiko