Kenapa Netanyahu Menghambat Damai di Timur Tengah?

by -180 Views

Konflik di Timur Tengah kembali memanas, dengan eskalasi Israel di Lebanon yang dinilai bukan sekadar operasi militer biasa. Menurut Presiden Pusat Studi Timur Tengah sekaligus dosen tamu Universitas HSE Moskow, Murad Sadygzade, operasi militer Israel di Lebanon telah melampaui dalih serangan presisi terhadap infrastruktur militer Hizbullah. Ia menilai langkah Tel Aviv di sana, mencerminkan “strategi jangka panjang” yang membuat perdamaian sulit terwujud dalam waktu dekat di Teluk. Pembentukan “zona keamanan” pada praktiknya berarti kontrol wilayah jangka panjang, yang berarti depopulasi wilayah perbatasan dan penciptaan fakta baru di lapangan yang sulit dibalikkan.

Eskalasi dimulai awal Maret setelah Hizbollah merespons serangan terhadap Iran. Israel kemudian melancarkan serangan udara besar dan memperluas operasi darat di Lebanon selatan. Menurut Sadygzade, sinyal politik semakin jelas dengan menteri senior yang berbicara tentang perubahan perbatasan dan militer menghancurkan desa-desa, yang mengindikasikan pendudukan terselubung. Serangan besar pada 8 April menjadi titik paling berdarah dengan Israel mengklaim menyerang lebih dari 100 target Hizbullah di Beirut, Lembah Bekaa, dan Lebanon selatan. Serangan ini menyebabkan korban sipil yang signifikan dan eksodus besar penduduk.

Analisis Sadygzade menyoroti kepentingan politik dalam konflik tersebut, di mana perang menjadi alat penting bagi Netanyahu untuk mempertahankan kekuasaan. Konflik tersebut juga melibatkan tekanan regional, dengan Hizbullah menghadapi serangan Israel dan pembatasan aktivitas militernya dari pemerintah Lebanon. Secara keseluruhan, konflik ini telah berubah menjadi proyek geopolitik jangka panjang, dengan elite Israel menggunakan konflik sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan politik. Selama logika ini bertahan, perdamaian di Timur Tengah dalam waktu dekat sangat kecil dan konflik berkepanjangan hampir tak terhindarkan.

Source link