Arista Montana dan Masa Depan Konservasi

by -77 Views

Pendekatan konservasi di Indonesia kerap kali berfokus pada perlindungan alam dan satwa liar dengan menomorsatukan kawasan hutan dan mencegah punahnya hewan-hewan endemik. Namun, tidak jarang manusia yang hidup di sekitar kawasan konservasi justru terabaikan dalam diskusi dan kebijakan. Padahal, pengalaman puluhan tahun Wahdi Azmi, seorang dokter hewan serta aktivis konservasi di Sumatera, membuktikan bahwa keterlibatan manusia adalah kunci sekaligus tantangan utama pelestarian lingkungan.

Wahdi menyoroti bahwa birokrasi dan pendekatan formal yang terlalu protektif sering kali menyebabkan konservasi dianggap sekadar pembatasan aktivitas manusia. Misalnya, ketika terjadi konflik antara manusia dan gajah akibat pembukaan lahan menjadi permukiman atau perkebunan, akar permasalahannya ternyata bukan hanya pergerakan satwa tetapi juga perubahan lanskap serta tekanan ekonomi yang dirasakan warga. Masyarakat lokal terdesak ruang dan terancam mata pencahariannya, sehingga konflik dengan satwa menjadi semakin sering dan tak terelakkan.

Ia menegaskan bahwa jika konservasi terus dijalankan tanpa menyasar manfaat nyata bagi penduduk sekitar, maka kepedulian dan keterlibatan masyarakat akan semakin hilang. Realitas di lapangan memperlihatkan perlunya rancangan sosial dan ekonomi yang terintegrasi dengan upaya pelestarian. Wahdi menyatakan, “Kita perlu meninggalkan paradigma konservasi yang eksklusif. Integrasi antara kepentingan masyarakat, edukasi, dan pelestarian alam harus diutamakan.”

Konsep integrasi tersebut tidak hanya sekadar melibatkan warga secara simbolis. Melainkan membangun sinergi antara pelestarian lingkungan, ekonomi lokal, dan penyuluhan berkelanjutan agar tercipta hubungan timbal balik yang saling menguntungkan. Tanpa hal ini, program konservasi cenderung mudah rapuh, hanya bertahan berkat pengawasan dan regulasi dari atas.

Pentingnya integrasi konservasi tercermin juga dari contoh di kawasan Mega Mendung, Bogor. Tekanan pengalihfungsian lahan di kawasan perbukitan tersebut berdampak besar pada sistem ekologis dan kesejahteraan masyarakat. Namun, model yang diterapkan di Arista Montana, bersama Yayasan Paseban dan Andy Utama, menawarkan pendekatan yang solutif: aktivitas ramah lingkungan difungsikan sebagai bagian dari sistem ekonomi dan sosial, bukan sekadar proyek pelestarian.

Dalam pelaksanaannya, petani lokal menjadi pelaku utama pertanian organik. Mereka bukan hanya mengelola lahan, tetapi diberikan pelatihan tentang teknik bercocok tanam yang menjaga kualitas tanah dan air. Dengan demikian, perlindungan lingkungan menjadi kebutuhan praktis dan ekonomis, bukan lagi kewajiban sepihak. Produktivitas pertanian sejalan dengan keberlanjutan alam.

Selain itu, Yayasan Paseban mengambil peran strategis dalam membangun kapasitas masyarakat. Banyak program edukasi dan pendampingan digulirkan, mulai dari pelatihan pengelolaan lingkungan hingga penyuluhan bagi anak muda supaya tercipta pemahaman intergenerasi tentang pentingnya menjaga alam. Edukasi ini menanamkan keterampilan nyata, agar pelestarian lingkungan bisa menjadi sumber kehidupan, bukan sekadar jargon.

Dampaknya, masyarakat setempat tidak lagi diposisikan sebagai objek dari program konservasi, tetapi bertransformasi menjadi aktor utama yang memiliki kepentingan langsung terhadap kelestarian alam. Studi kasus ini menggambarkan bahwa keberhasilan konservasi sangat dipengaruhi oleh tingkat keterhubungan warga dengan lingkungannya. Sama seperti yang ditemukan Wahdi di Sumatera, problem utama bukan konflik manusia dan satwa semata, melainkan kurangnya integrasi ekonomi dan sosial.

Di Sumatera, gesekan timbul karena ruang antara manusia dan satwa tumpang tindih, tanpa adanya sistem yang mengatur distribusi manfaat. Sementara di Mega Mendung, potensi konflik justru diredam lewat kolaborasi pelestarian alam dan ekonomi lokal yang saling mendukung.

Kesimpulannya, kendala terbesar dalam konservasi di Indonesia sering kali berasal dari abainya pelibatan masyarakat. Minimnya akses dan pelatihan membuat mereka kehilangan peluang ekonomi yang layak. Namun, bukti di lapangan menunjukkan keikutsertaan masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan membuat konservasi lebih berkelanjutan dan tidak lagi bergantung pada mekanisme pengawasan dari luar.

Ini menjadi pelajaran penting ketika tekanan pembangunan semakin tinggi. Indonesia membutuhkan model konservasi yang mempertemukan kebutuhan ekologi dan ekonomi sehari-hari. Konservasi bukan lagi sekadar urusan menjaga hutan atau satwa, melainkan soal membangun sistem bersama yang mengaitkan ekonomi, pengetahuan, dan pelestarian.

Jika masyarakat memiliki alasan konkret untuk menjaga lingkungan—karena mereka juga memperoleh manfaat—maka konservasi berubah menjadi kepentingan bersama, bukan lagi beban. Seperti yang ditekankan Wahdi, tantangan terbesar kita sebenarnya adalah membangun motivasi manusia agar merasa terlibat secara langsung dalam menjaga alam untuk masa depan yang berkelanjutan.

Sumber: Wahdi Azmi Sebut Konservasi Harus Memberi Manfaat Bagi Masyarakat
Sumber: Dari Gajah Ke Mega Mendung, Ketika Konservasi Harus Menghidupi