Krisis di Selat Hormuz: 10 Kapal Diserang, Korban Jiwa Berjatuhan

by -184 Views

Selama lebih dari sepekan terakhir, pertempuran antara AS-Israel dan Iran telah melanda Selat Hormuz, dengan sekitar 10 kapal dilaporkan diserang di atau dekat perairan tersebut. Data dari berbagai kelompok analisis maritim menunjukkan bahwa serangkaian serangan tersebut hampir sepenuhnya menghentikan lalu lintas kapal di selat yang merupakan jalur utama pengiriman minyak dan komoditas global. Sementara itu, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) telah mengeluarkan sekitar 10 peringatan terkait serangan dan aktivitas mencurigakan di kawasan tersebut, meskipun informasi terperinci mengenai kapal-kapal yang terlibat masih dibatasi.

Organisasi Maritim Internasional (IMO) mencatat setidaknya sembilan serangan terhadap kapal di Selat Hormuz hanya dalam waktu satu minggu, dengan total tujuh orang tewas akibat serangan tersebut. Serangkaian serangan terjadi dari 2 hingga 6 Maret, menargetkan beberapa kapal termasuk Skylight, MKD Vyom, Stena Imperative, Hercules Star, Libra Trader, Gold Oak, Safeen Prestige, Sonangol Namibe, dan Mussafah 2.

Perusahaan keamanan maritim Vanguard mengungkapkan bahwa kapal Mussafah 2 terkena dua rudal saat memberikan bantuan kepada kapal Safeen Prestige. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa kapal yang berusaha menolong korban serangan akan menjadi target berikutnya. Pusat Informasi Maritim Gabungan (Joint Maritime Information Centre/JMIC) juga memperingatkan potensi peningkatan risiko serangan terhadap kapal yang memberikan bantuan atau operasi penyelamatan kepada kapal yang sebelumnya diserang.

Sementara Garda Revolusi Iran dilaporkan menggunakan drone dan rudal dalam serangan tersebut, tetapi konfirmasi independen terkait hal tersebut seringkali terlambat dan tidak lengkap. Ancaman keras dari Garda Revolusi Iran terhadap kapal yang melewati perairan tersebut juga menambah ketegangan di kawasan tersebut.

Di sisi lain, AS dan negara lainnya mulai mempertimbangkan tindakan militer dan diplomasi untuk menjaga keamanan di Selat Hormuz. Presiden Prancis Emmanuel Macron bahkan mencoba membangun koalisi internasional untuk melindungi jalur laut yang penting bagi perekonomian global. Meskipun demikian, situasi keamanan yang memburuk di Selat Hormuz telah menyebabkan penurunan tajam dalam lalu lintas kapal di kawasan tersebut, dengan sebagian besar kapal komersial memilih untuk menjauh dari selat yang menjadi jalur vital perdagangan energi global.

Source link