Seruan Kekayaan berdampak Sosial dari Menara Syariah PIK2

by -44 Views

Pada Rabu, 11 Februari 2026, ruang utama Menara Syariah PIK2 dipenuhi oleh akademisi, regulator, dan pegiat filantropi dari Indonesia dan Malaysia untuk menghadiri Simposium Internasional bertema “Ethical Wealth & Social Impact”. Diskusi tidak hanya tentang angka dan instrumen keuangan, tetapi juga seputar aspek makna dari kekayaan itu sendiri. Kolaborasi antara Menara Syariah dan Universiti Tunku Abdul Rahman (UTAR) menciptakan ruang pertemuan lintas disiplin di mana perwakilan dari DEKS-BI, KNEKS, Badan Wakaf Indonesia, BAZNAS, LazisMu, dan IAEI duduk bersama untuk membahas bagaimana modal dapat digunakan untuk kesejahteraan bersama.

Isu ketimpangan global, peluang wakaf produktif, dan zakat sebagai motor pemberdayaan ekonomi menjadi topik hangat dalam diskusi ini. Para peserta sepakat bahwa kekayaan bukan lagi hanya dianggap sebagai tujuan akhir, tetapi sebuah amanah yang harus dikelola dengan tanggung jawab. Komisaris Utama Menara Syariah, Harianto Solichin, menggarisbawahi bahwa menjadi kaya tidak dilarang, namun harus dilakukan secara etis.

Harianto juga menyoroti praktik bisnis yang merugikan masyarakat sebagai contoh perilaku yang tidak etis. Baginya, kekayaan yang sehat harus disertai dengan kontribusi nyata bagi masyarakat. Simposium ini merumuskan tiga agenda utama: memperkuat kerangka keuangan berbasis nilai, mendorong model pembiayaan yang memberi manfaat terukur, serta memperluas kolaborasi lintas sektor. Pesan yang diusung dari acara ini sederhana namun jelas, bahwa kekayaan dapat dicapai oleh siapa saja asalkan membawa kebaikan yang dirasakan bersama.

Source link