Negara NATO Aktifkan Mode Perlawanan, AS Mau Rebut Wilayahnya

by -112 Views

Ketegangan diplomatik antara Denmark dan Amerika Serikat (AS) mencapai puncaknya di awal tahun 2026. Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, menyampaikan pidato keras menegaskan bahwa pihaknya akan melawan usaha pemerintahan Donald Trump untuk mengakuisisi Greenland. Sikap menantang ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump menunjuk Gubernur Louisiana, Jeff Landry, sebagai utusan khusus untuk Greenland, menggarisbawahi ambisinya yang lama bahwa Washington “membutuhkan” pulau tersebut demi kepentingan “keamanan nasional”. PM Frederiksen mengecam “ancaman, tekanan, dan pembicaraan merendahkan” dari sekutu dekatnya, tanpa menyebut AS langsung, dengan kritik keras terhadap gagasan akuisisi negara lain sebagai pandangan usang yang tidak dapat diterima.

Tentang keinginan AS untuk mengambil alih negara-negara lain, Frederiksen menegaskan bahwa hal tersebut tidak dapat diterima. Raja Frederik X juga menyoroti kekuatan dan kebanggaan rakyat Greenland serta peningkatan program pelatihan militer di Arktik sebagai respons atas meningkatnya ketegangan di wilayah tersebut. Donald Trump berpendapat bahwa AS sangat memerlukan Greenland karena letak strategisnya di Arktik dan potensi sumber daya mineral yang melimpah. Penunjukan Jeff Landry sebagai utusan khusus untuk Greenland bahkan membuat Kopenhagen marah, dipicu kemarahan besar di Kopenhagen. Menteri Luar Negeri Denmark, Lars Lokke Rasmussen, menyatakan penunjukan utusan tersebut sebagai sesuatu yang tidak dapat diterima dan telah memanggil duta besar AS untuk penjelasan.

Situasi ini telah meruntuhkan hubungan kedua sekutu NATO tersebut hingga ke titik terendah. Dinas intelijen Denmark mengidentifikasi AS sebagai potensi ancaman bagi keamanan nasional mereka. Laporan intelijen tersebut menyatakan bahwa Washington tidak ragu untuk menggunakan kekuatan ekonomi, termasuk ancaman tarif tinggi, untuk memaksakan kehendaknya, bahkan pada sekutunya sendiri.

Source link