BSSN Soroti Perubahan Paradigma Ancaman di Cyberspace

by -123 Views

Dalam diskusi internasional yang bertempat di Universitas Indonesia pada 23-24 Oktober 2025, Dr. Sulistyo menjelaskan esensi ruang siber di hadapan peserta International Postgraduate Student Conference (IPGSC). Sebagai Deputi di Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), ia memaparkan bahwa dunia maya kini menjadi ranah strategis yang unik, karena sifatnya yang tanpa batas dan tidak dikendalikan oleh satu negara maupun satu otoritas. Berbeda dari ranah fisik seperti daratan, laut, atau udara, ruang siber hadir tanpa batas geografis sehingga membawa tantangan dan dinamika yang baru bagi negara-negara di seluruh dunia.

Dr. Sulistyo memaparkan bahwa karakteristik tanpa batas dari ruang siber membuatnya lebih dari sekadar infrastruktur digital; ia merupakan arena utama bagi munculnya ancaman global yang dapat mempengaruhi stabilitas dan keamanan negara-negara. Ruang siber, kata Sulistyo, telah mengaburkan batas-batas tradisional kedaulatan negara. “Ancaman bisa bergerak melintasi negara, dilakukan oleh aktor mana pun, dan berakibat pada siapa saja, tanpa mengenal lokasi,” tegasnya.

Fenomena borderless cyberspace turut menciptakan dilema baru bagi konsep kedaulatan nasional. Berbagai serangan seperti sabotase sistem vital, penyebaran informasi palsu, hingga manipulasi data dapat terjadi dalam hitungan detik dan tidak mengenal rintangan negara, sehingga proses pelacakan pelaku dan penegakan hukum menjadi sangat sulit. Sulitnya atribusi serta lambannya respons kolektif memperparah situasi.

Selain itu, ketiadaan batas jelas dalam dunia maya menyebabkan negara-negara harus menyesuaikan cara memelihara kedaulatan mereka, meskipun tidak ada wilayah fisik yang harus diawasi. Penegakan aturan juga turut menantang, sebab aktor utama di ruang siber tidak hanya negara–ada peretas independen, kelompok terorganisir, hingga aktor yang didukung pemerintah asing yang sama-sama mampu melaksanakan operasi lintas-negara tanpa perlu memasuki batas teritorial secara fisik.

Lingkungan ini telah mengubah lanskap ancaman. Konflik siber tidak memerlukan perang terbuka atau pengerahan militer, namun dampaknya bisa sangat merusak, mulai dari keruntuhan ekonomi, gangguan pada proses politik, hingga berujung pada ketidakstabilan regional, lanjut Sulistyo. Selain itu, persaingan antarnegara besar pun kini merambah ke domain digital; pengembangan teknologi baru seperti kecerdasan buatan, komputasi kuantum, dan jaringan telekomunikasi mutakhir menjadi tulang punggung kekuatan nasional dan mempengaruhi konfigurasi geopolitik internasional.

Menghadapi tantangan dunia maya yang tanpa batas ini, Indonesia mengambil langkah strategis melalui penguatan diplomasi siber berbasis politik luar negeri bebas aktif. Upaya Indonesia terfokus pada penciptaan tata kelola siber global yang inklusif dan berkeadilan, agar negara-negara berkembang tidak terpinggirkan oleh intensitas rivalitas kekuatan besar.

Indonesia aktif di forum ASEAN, Perserikatan Bangsa-Bangsa, serta berbagai koalisi internasional untuk mendorong penetapan norma perilaku negara di dunia siber. Selain itu, Indonesia secara konsisten memperjuangkan langkah-langkah pencegahan, pembentukan mekanisme kerja sama penanganan insiden lintas batas, serta penguatan kapasitas keamanan di kawasan melalui program pelatihan dan pertukaran informasi.

Menurut Dr. Sulistyo, ketahanan nasional dalam ruang siber sangat tergantung pada tiga agenda penting: penguatan sistem keamanan siber nasional dengan modernisasi struktur pertahanan, intensifikasi kerja sama internasional karena tidak ada satupun negara yang mampu bertahan sendiri, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang siber yang mampu beradaptasi dengan perubahan global yang cepat.

Ia menegaskan pula bahwa keamanan siber pada hakikatnya adalah keamanan internasional yang saling terhubung, sebab ancaman yang terjadi di satu negara dapat dengan mudah bergulir ke negara lain. Dalam dunia tanpa batas seperti sekarang, keamanan bersama menjadi sangat penting, dan kolaborasi internasional adalah kunci mempertahankan kestabilan di ruang digital global.

Sumber: Ruang Siber Yang Borderless Mengubah Peta Keamanan Internasional, Ini Sikap Indonesia
Sumber: Ruang Siber Yang Borderless Dan Implikasinya Bagi Keamanan Internasional: Perspektif Indonesia