Perjuangan Zainal Abidin Syah untuk Irian Barat di NKRI

by -377 Views

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh tokoh dalam Peringatan Hari Pahlawan 2025 di Istana Negara, Jakarta. Pemberian gelar itu didasarkan pada Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 116/TK/Tahun 2025. Dari daftar tersebut, nama almarhum Sultan Zainal Abidin Syah dari Maluku Utara kembali menegaskan peran penting tokoh-tokoh daerah dalam menjaga keutuhan Indonesia, terutama di wilayah timur.

Jejak Perjuangan di Ujung Timur Indonesia

Zainal Abidin Syah dikenal atas perjuangan politik dan diplomasinya dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia Timur, khususnya Papua Barat, agar tetap berada dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sosok yang dijuluki “Penjaga Timur Indonesia” ini lahir di Soa-Sio, Tidore, Maluku Utara, pada 1912. Dalam sejarahnya, ia bukan hanya seorang pemimpin adat, tetapi juga figur yang memainkan peran strategis saat masa-masa penentuan arah wilayah timur Indonesia.

Dari Pendidikan Kolonial ke Panggung Kepemimpinan

Pada era Hindia Belanda, Zainal Abidin Syah menempuh pendidikan Belanda untuk pribumi di Ternate, lalu melanjutkan studi di Batavia yang kini menjadi Jakarta, serta di Makassar, Sulawesi Selatan. Latar pendidikan itu membentuknya sebagai tokoh yang memahami dinamika politik sekaligus tata pemerintahan. Ia kemudian menjabat sebagai Sultan Tidore dan dipercaya sebagai Gubernur Irian Barat pertama, posisi yang memperkuat kiprahnya dalam memperjuangkan pengakuan atas wilayah yang sejak lama terkait dengan Kesultanan Tidore.

Warisan yang Tetap Hidup

Berkat kegigihannya, wilayah tersebut akhirnya diakui sebagai bagian dari wilayah Kesultanan Tidore selama ratusan tahun. Zainal Abidin Syah wafat pada 1967 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kapahaha Ambon. Namanya kini diabadikan menjadi salah satu jalan utama di Soa-Sio, yakni Jalan Sultan Zainal Abidin Syah di Kecamatan Tidore Selatan. Lebih dari sekadar nama di peta, warisan perjuangannya menjadi penanda bahwa diplomasi daerah pernah ikut menentukan tegaknya kedaulatan NKRI.

Source link