Pegawai Starbucks Mogok Massal: Operasi Terancam Lumpuh

by -415 Views

Pegawai Starbucks Mogok Massal: Operasi Terancam Lumpuh

Musim liburan yang biasanya menjadi momen paling sibuk bagi Starbucks kini dibayangi ancaman serius dari dalam perusahaan sendiri. Barista di Amerika Serikat yang tergabung dalam serikat pekerja menyatakan siap melakukan mogok terbuka jika kesepakatan kontrak tak juga tercapai sebelum 13 November, atau yang dikenal sebagai Red Cup Day. Bagi Starbucks, ini bukan sekadar persoalan hubungan industrial, melainkan ujian besar di tengah upaya memulihkan penjualan yang sedang melemah.

Ancaman mogok di lebih dari 25 kota

Aksi yang disiapkan Serikat Pekerja Starbucks Workers United disebut bisa meluas ke lebih dari 25 kota. Serikat menegaskan, mogok akan dijalankan bila perundingan tetap buntu dan tidak ada kontrak yang dinilai adil bagi para pekerja. Situasi ini menambah tekanan terhadap jaringan gerai yang biasanya mengandalkan lonjakan pelanggan menjelang akhir tahun.

Meski kedua pihak saling menuding soal mandeknya pembicaraan, pintu negosiasi belum tertutup. Serikat yang menaungi sekitar 9.500 pekerja Starbucks, atau sekitar 4% dari total tenaga kerja di kafe, masih terlibat dalam proses perundingan yang sudah berlangsung cukup lama.

Tuntutan pekerja belum terpenuhi

Di meja perundingan, para pekerja membawa sejumlah tuntutan yang berulang kali menjadi sumber ketegangan, mulai dari penambahan staf, kenaikan gaji, hingga perlindungan di tempat kerja. Mereka menilai beban kerja tidak sebanding dengan kompensasi yang diterima, sementara kondisi operasional di lapangan juga kerap dipersoalkan.

Starbucks sendiri menyatakan telah menawarkan kondisi kerja yang disebut terbaik di industri ritel. Namun, pernyataan itu belum cukup meredakan kekecewaan sebagian pekerja, terutama terkait kenaikan gaji dan tunjangan ekonomi yang dianggap belum memadai.

Tekanan makin berat di tengah penurunan penjualan

Ketegangan ini datang pada waktu yang tidak ideal bagi Starbucks. Perusahaan tengah menghadapi tekanan finansial setelah mencatat penurunan penjualan dalam beberapa kuartal terakhir. CEO Brian Niccol sedang berupaya merombak operasi toko di Amerika Serikat untuk mendongkrak kinerja, tetapi ancaman mogok justru berpotensi mengganggu ritme pemulihan tersebut.

Isu serupa bukan kali pertama muncul. Pada April lalu, delegasi serikat menolak proposal kenaikan gaji minimal 2% dari Starbucks. Penolakan itu sempat menarik perhatian publik dan mendorong sejumlah pemegang saham, termasuk Comptroller Kota New York, untuk mendesak perusahaan kembali membuka pembicaraan.

Dengan tenggat 13 November yang semakin dekat, Starbucks kini harus menghadapi dua tekanan sekaligus: menjaga operasional tetap berjalan dan mencari jalan keluar dari konflik yang sudah lama berlarut. Di saat perusahaan berharap musim liburan bisa menjadi penopang penjualan, justru para pekerja yang memegang kunci apakah mesin bisnis itu tetap berputar lancar atau tersendat di saat paling krusial.

Source link