Pegawai Starbucks Mogok Massal: Operasi Terancam Lumpuh

by -60 Views

Barista Starbucks di Amerika Serikat berserikat dan mengancam akan melakukan pemogokan terbuka menjelang musim liburan, yang notabene merupakan periode tersibuk bagi Starbucks. Ancaman ini menjadi tantangan berat bagi perusahaan kopi tersebut yang sedang berusaha pulih dari penurunan penjualan.

Para pekerja yang diwakili oleh Serikat Pekerja Starbucks Workers United telah menyatakan siap untuk mogok jika tidak ada kesepakatan kontrak yang adil sebelum tanggal 13 November, yang dikenal sebagai “Red Cup Day.” Aksi mogok ini dapat melibatkan lebih dari 25 kota dan dapat meningkat jika perundingan tidak membuahkan hasil.

Meskipun kedua belah pihak saling menyalahkan atas kemunduran pembicaraan kontrak, mereka masih siap untuk melanjutkan negosiasi. Serikat pekerja yang menaungi sekitar 9.500 pekerja Starbucks, atau sekitar 4% dari total tenaga kerja di kafe, telah lama terlibat dalam pembicaraan dengan perusahaan. Tuntutan yang diajukan mencakup peningkatan staf, kenaikan gaji, dan perlindungan di tempat kerja.

Sementara itu, Starbucks menegaskan bahwa mereka telah menawarkan kondisi kerja terbaik dalam industri ritel. Namun, tidak semua pekerja merasa puas dengan proposal perusahaan, terutama dalam hal kenaikan gaji dan tunjangan ekonomi.

Ini bukan kali pertama pekerja Starbucks menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap perusahaan. Sebelumnya pada bulan April, delegasi serikat menolak proposal kenaikan gaji minimal 2% dari Starbucks. Hal ini menjadi sorotan publik dan mendorong pemegang saham, termasuk Comptroller Kota New York, untuk mendorong perusahaan melakukan pembicaraan lanjutan.

Starbucks sendiri menghadapi tekanan finansial setelah mencatat penurunan penjualan dalam beberapa kuartal terakhir. Meskipun CEO Brian Niccol sedang berusaha merombak operasi toko di AS untuk meningkatkan penjualan, perusahaan tetap berada di bawah tekanan untuk mencapai kesepakatan yang adil dengan pekerja agar operasi tetap lancar.

Source link