Menjaga Sungai dan Nurani: Cerita Relawan Tzu Chi dan ASG

by -419 Views

Di tepi Sungai Cisadane, pagi bergerak pelan dengan suara ember yang bergesekan, tawa para relawan, dan air yang terus mengalir. Di tengah suasana itu, puluhan relawan Tzu Chi bersama karyawan Agung Sedayu Group turun langsung membersihkan sampah plastik, kayu, dan ranting yang menumpuk di aliran sungai. Sinar matahari yang jatuh ke permukaan air seolah menegaskan satu hal: kebersihan sungai bukan urusan kecil, melainkan kerja bersama yang tidak bisa ditunda.

Kerja Sunyi di Tepi Cisadane

Aksi bersih-bersih ini menjadi bagian dari program CSR PIK2 bersama River Impact Indonesia (Eco Waste Bank). Bagi para peserta, kegiatan tersebut bukan sekadar agenda lingkungan, melainkan ruang untuk terlibat langsung dalam upaya menyelamatkan bumi dari sampah yang selama ini kerap luput dari perhatian. Di lapangan, pekerjaan itu jauh dari kata ringan. Sampah yang tersangkut di tepian sungai harus diangkat satu per satu, sementara aliran air terus bergerak membawa sisa-sisa kotoran lain.

Kesadaran yang Datang dari Tumpukan Sampah

Yohanes Pranoto, salah satu relawan yang ikut turun tangan, mengaku pengalaman itu membuatnya melihat persoalan sampah dengan cara berbeda. Saat menyaksikan sendiri betapa banyak limbah yang menumpuk di sungai, ia merasa seperti sedang berhadapan dengan kelalaian yang juga pernah ia lakukan. Dari situ, muncul rasa malu sekaligus kesadaran bahwa membuang sampah sembarangan bukan persoalan sepele, melainkan kebiasaan yang berdampak panjang.

Warga Mulai Belajar Mengelola Sampah

Sebelum program ini berjalan, sebagian warga Desa Tanjung Burung memang terbiasa membuang sampah ke sungai. Namun pendampingan yang disertai keberadaan Bank Sampah perlahan mengubah kebiasaan itu. Warga mulai diajak memilah sampah sejak dari rumah, lalu mengelolanya dengan lebih tertib. Plastik, kertas, logam, hingga bambu dipisahkan sebelum diolah menjadi barang baru yang lebih berguna. Perubahan ini tidak terjadi dalam semalam, tetapi dari proses panjang yang menuntut kesabaran dan konsistensi.

Di akhir kegiatan, yang tertinggal bukan hanya sungai yang lebih bersih, tetapi juga kesadaran bahwa menjaga lingkungan adalah urusan moral, bukan sekadar estetika. Wajah para relawan memang lelah, namun ada kepuasan yang sulit disembunyikan: mereka telah ikut merawat ruang hidup yang sama-sama akan diwarisi bersama.

Source link