Mahasiswa Demo di DPR, Kawal Tuntutan 17+8

by -431 Views

Mahasiswa Demo di DPR, Kawal Tuntutan 17+8

Jakarta — Aksi mahasiswa kembali mewarnai depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Jumat (5/9/2025). Kali ini, massa datang dengan satu pesan utama: mengawal tuntutan 17+8 yang disebut harus dituntaskan hari ini. Kehadiran mereka menambah tekanan moral di tengah sorotan publik terhadap daftar aspirasi yang belakangan ramai dibahas di media sosial.

Massa Datang dari Bandung, Situasi Tetap Terkendali

Kombes Ade Ary Syam Indradi, Kepala Biro Multimedia (Karomulmed) Divisi Humas Polri, menyebut mahasiswa yang hadir berasal dari Bandung. Menurut dia, kondisi di lokasi hingga pukul 14.59 WIB masih aman dan terkendali. Ia juga meminta masyarakat tidak khawatir dan tetap menjalankan aktivitas seperti biasa.

Untuk mengamankan jalannya aksi, Polri menurunkan 1.371 personel. Pengamanan dilakukan agar demonstrasi tetap berlangsung tertib tanpa mengganggu arus aktivitas di sekitar kawasan DPR.

Bendera Unpad dan Poster Tuntutan Dibawa ke Lokasi

Massa mahasiswa tiba sekitar pukul 13.48 WIB dengan membawa bendera bertuliskan Universitas Padjadjaran serta bendera merah putih. Selain itu, mereka juga mengangkat poster berisi berbagai tuntutan, termasuk yang menyoroti 17+8 Tuntutan Rakyat.

Daftar tuntutan itu sebelumnya banyak beredar di media sosial dan disebut telah disampaikan kepada akun Prabowo serta DPR. Isinya mencakup sejumlah poin yang harus dipenuhi dalam tenggat waktu tertentu, sehingga aksi hari ini menjadi bentuk pengawalan langsung atas janji dan desakan yang sudah lama bergulir.

Tekanan Publik atas Reformasi yang Lebih Luas

Tuntutan 17+8 tak hanya menyasar Presiden dan DPR, tetapi juga Ketua Umum Partai Politik, Kepolisian Republik Indonesia, TNI, hingga Kementerian Sektor Ekonomi. Selain itu, ada pula tuntutan jangka lebih panjang yang menyoroti reformasi besar-besaran di DPR, partai politik, perpajakan, sampai TNI dalam kurun satu tahun.

Aksi mahasiswa di depan DPR hari ini memperlihatkan bahwa daftar tuntutan tersebut bukan sekadar wacana di jagat maya. Di lapangan, pesan yang dibawa massa cukup jelas: aspirasi publik ingin didengar, dicatat, dan ditindaklanjuti, bukan berhenti sebagai tren sesaat.

Source link