Pertamina NRE Target Kolaborasi EBT Nuklir-Geothermal

by -584 Views

Pertamina NRE Bidik Kolaborasi EBT dari Surya hingga Nuklir di Tengah Target 42,5 GW

Pemerintah Indonesia sedang menekan pedal akselerasi energi bersih. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, kapasitas pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT) ditargetkan melonjak hingga 42,5 Gigawatt sebagai bagian dari jalan panjang menuju Net Zero Emission 2060. Di tengah ambisi besar itu, Pertamina NRE menempatkan diri sebagai salah satu motor penting yang dituntut bukan hanya membangun, tetapi juga mencari formula paling realistis agar proyek EBT bisa benar-benar berjalan.

Solar panel, dari tantangan lahan ke solusi floating

Di sektor tenaga surya, tantangan utama masih berkutat pada ketersediaan lahan dan kondisi geografis yang kerap tidak ideal untuk instalasi panel. Pertamina NRE menilai hambatan tersebut tidak bisa dibiarkan menjadi alasan mandeknya pengembangan energi surya. Karena itu, perusahaan mengandalkan pendekatan floating solar panel sebagai solusi yang lebih adaptif di sejumlah lokasi. Langkah ini menjadi penting karena pengembangan EBT tak hanya soal target kapasitas, tetapi juga soal bagaimana proyek bisa dieksekusi secara efisien di lapangan.

Geothermal dan gas to power jadi tumpuan berikutnya

Selain surya, Pertamina NRE juga mengarahkan perhatian ke sektor geothermal atau Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). Potensi pengembangannya disebut mencapai 3 Gigawatt. Di sisi lain, perusahaan juga menyiapkan pengembangan gas to power di Jawa dengan kapasitas 1,8 Gigawatt. Kombinasi ini menunjukkan bahwa strategi Pertamina NRE tidak bertumpu pada satu sumber energi saja, melainkan membangun portofolio yang lebih beragam untuk menopang transisi energi nasional.

Kerja sama dengan PLN dan peluang nuklir

Dengan dukungan Danantara, Pertamina NRE telah menjalin kerja sama dengan PLN melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Head of Agreement (HoA) untuk pengembangan energi panas bumi. Total kapasitas yang dibidik mencapai 530 Megawatt (MW) dari 19 proyek yang tersebar. Di saat yang sama, muncul pula pertanyaan tentang arah pengembangan EBT ke depan, termasuk peluang kolaborasi pada energi nuklir. Isu ini menjadi relevan karena transisi energi Indonesia tidak lagi hanya bicara panel surya dan panas bumi, tetapi juga opsi-opsi lain yang bisa mempercepat bauran energi bersih.

Strategi Pertamina NRE dalam membaca peluang dari surya, geothermal, hingga kemungkinan pembangkit nuklir menjadi sorotan dalam wawancara Maria Katarina dengan Direktur Utama Pertamina NRE, John Anis, di program Squawk Box CNBC Indonesia, Kamis, 21 Agustus 2025. Source link