Keputusan Mendadak Trump Dukung Rusia di Perang

by -521 Views

Keputusan Mendadak Trump Dukung Rusia di Perang

Pemerintah Amerika Serikat kembali menjadi sorotan setelah memilih tidak ikut menandatangani pernyataan yang mengecam Rusia atas perang tahun 2008 dengan Georgia. Sikap Washington itu muncul usai sidang tertutup Dewan Keamanan PBB, ketika sejumlah sekutu Barat justru kompak menekan Moskow dengan menyebut serangan ke negara Kaukasus Selatan tersebut sebagai “invasi brutal”.

Denmark, Prancis, Yunani, Inggris, dan Slovenia termasuk di antara negara yang mengeluarkan kecaman tersebut. Namun, kali ini AS mengambil jarak. Keputusan itu menimbulkan pertanyaan baru soal arah politik luar negeri Washington, terutama di tengah langkah Presiden AS Donald Trump yang belakangan berupaya membuka kembali jalur komunikasi dengan Rusia.

AS Menolak Ikut Kecaman Bersama Sekutu

Penolakan AS untuk menandatangani pernyataan itu dinilai mencolok karena datang di saat para sekutu masih memandang perang 2008 sebagai titik penting dalam hubungan Rusia dan Barat. Dalam pernyataan bersama, negara-negara Eropa menegaskan kembali kecaman mereka atas tindakan Rusia, tetapi absennya tanda tangan Washington memberi sinyal bahwa posisi AS tidak lagi sejalan sepenuhnya dengan mitra-mitranya.

Langkah ini juga mempertegas perubahan pendekatan Trump terhadap Moskow. Ia telah mengakhiri boikot diplomatik terhadap Rusia dan berusaha mendorong perundingan terkait konflik Ukraina, termasuk lewat pertemuannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska. Pertemuan itu disebut sebagai bagian dari upaya mendorong negosiasi antara kedua negara.

Latar Perang Georgia-Rusia 2008

Perang itu bermula pada 7 Agustus 2008, ketika tentara Georgia menyerbu wilayah Ossetia Selatan yang ingin memisahkan diri. Aksi tersebut dipicu oleh Presiden Mikhail Saakashvili yang pro-Barat. Pasukan Georgia kemudian menyerang wilayah itu, dan Rusia membalas dengan memukul mundur pasukan Georgia. Setelah itu, gencatan senjata dicapai.

Rusia kemudian mengakui kemerdekaan Ossetia Selatan dan Abkhazia. Meski selama ini ada klaim bahwa Moskow lebih dulu menyerang, misi pencari fakta Uni Eropa yang dipimpin diplomat Swiss Heidi Tagliavini tidak menemukan bukti yang mendukung anggapan tersebut.

Kritik dari Georgia

Di Tbilisi, keputusan Washington langsung memantik reaksi keras. Tina Bokuchava, ketua Gerakan Nasional Bersatu yang dipimpin Saakashvili, menyebut penolakan AS sebagai tanda matinya diplomasi Georgia. Bagi kubu ini, sikap Washington bukan sekadar soal tanda tangan di atas kertas, melainkan sinyal politik yang bisa berdampak pada cara dunia memandang perang tersebut.

Di tengah memanasnya kembali perdebatan lama soal perang 2008, sikap AS justru membuka babak baru: sekutu Barat tetap menekan Rusia, sementara Washington di bawah Trump memilih langkah yang lebih cair dan jauh dari posisi konfrontatif yang biasa mereka ambil sebelumnya. Source link