Pertanian Organik: Presiden Prabowo Peduli Petani

by -517 Views

Seluma — Kedekatan Presiden Prabowo Subianto dengan petani bukan sekadar slogan politik. Menurut Senior Expert Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) Dedek Prayudi, atau Uki, hubungan itu sudah terbentuk lama sejak Prabowo masih bertugas sebagai perwira militer hingga memimpin Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Dari pengalaman panjang itulah, Uki menilai perhatian Prabowo terhadap sektor pertanian punya dasar yang kuat dan bukan muncul tiba-tiba.

Panen Jagung di Jenggalu Jadi Sorotan

Pernyataan itu disampaikan Uki saat menghadiri panen raya jagung di Desa Jenggalu, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu. Di lokasi itu, ia menekankan bahwa program ketahanan pangan yang dijalankan Presiden Prabowo bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bukan hanya soal produksi pangan, tetapi juga soal kemandirian Indonesia dalam menghadapi gejolak global.

Menurut Uki, situasi dunia yang tidak menentu bisa berdampak langsung pada harga pangan. Karena itu, upaya memperkuat produksi dalam negeri menjadi penting agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada pasokan dari luar negeri. Dalam konteks inilah panen jagung di daerah menjadi bagian dari gambaran besar ketahanan pangan nasional.

Dorongan untuk Petani Lewat Dukungan Negara

Uki juga menyoroti dukungan pemerintah kepada petani melalui pupuk bersubsidi, pestisida, dan alat mesin pertanian. Fasilitas itu, kata dia, dapat membantu meningkatkan hasil panen sekaligus memberi semangat baru bagi petani untuk terus mengolah lahan secara optimal.

Di sisi lain, pemerintah juga berupaya memangkas urusan administrasi agar akses petani terhadap pupuk bersubsidi lebih mudah dan tidak berbelit. Langkah ini dinilai penting karena ketersediaan input pertanian yang cepat dan tepat akan sangat menentukan produktivitas di lapangan.

Serapan Hasil Panen dan Rantai Pangan yang Lebih Terkoneksi

Selain dukungan produksi, Uki menjelaskan bahwa Badan Pangan Nasional bersama Bulog juga bekerja menyerap hasil panen jagung petani. Skema ini diharapkan tidak berhenti pada jagung semata, tetapi ikut menghubungkan kepentingan petani tanaman pangan dengan para peternak.

Dengan rantai pasok yang lebih tersambung, harga pakan ternak dan harga hewan ternak diharapkan tetap terkendali. Pada akhirnya, kebijakan itu diarahkan agar petani memperoleh kepastian pasar, peternak mendapat biaya produksi yang lebih masuk akal, dan ketahanan pangan nasional bisa berjalan lebih stabil dari hulu ke hilir.

Di Jenggalu, panen jagung bukan hanya soal hasil kebun yang diangkat ke permukaan, melainkan juga menjadi cermin bagaimana pemerintah, aparat daerah, dan para pemangku kepentingan mencoba membangun sistem pangan yang lebih tahan banting di tengah tekanan global.