Free Health Checks: Your Path to Disease-Free Living

by -392 Views

Jakarta, 11 Agustus 2025 — Pemeriksaan Kesehatan Gratis (CKG) tak lagi diposisikan sekadar sebagai layanan cek kesehatan rutin. Di mata Senior Expert Kantor Komunikasi Presiden (PCO), Hariqo Wibawa Satria, program ini adalah pintu awal untuk membangun kebiasaan baru: menjadikan kesehatan sebagai prioritas sepanjang hidup, bukan hanya saat tubuh sudah jatuh sakit.

CKG Dipandang Sebagai Titik Awal Perubahan

Hariqo menyebut CKG sebagai “garis start” menuju masyarakat yang lebih bebas dari penyakit. Pesan utamanya sederhana, tetapi tegas: perubahan besar dalam kesehatan publik harus dimulai dari kesadaran individu untuk lebih peduli pada kondisi tubuhnya sejak dini.

“CKG adalah garis start menuju kebebasan dari penyakit. Di sinilah kesadaran tumbuh, mendorong orang untuk menjadikan kesehatan sebagai prioritas seumur hidup,” ujar Hariqo pada Senin (11/8).

Ia berharap momentum peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus tidak hanya dimaknai sebagai usia bertambahnya kemerdekaan negara, tetapi juga sebagai ukuran semakin banyaknya warga yang terbebas dari beban penyakit.

Program Kesehatan Disusun dari Hulu ke Hilir

Menurut Hariqo, pemerintah di bawah Presiden Prabowo telah menyiapkan rangkaian program kesehatan yang saling terhubung, mulai dari CKG, kampanye “Stop TB”, revitalisasi rumah sakit umum daerah, hingga pemberian tunjangan khusus bagi dokter spesialis yang bertugas di wilayah terpencil, perbatasan, dan kepulauan (DTPK).

Rangkaian kebijakan itu, kata dia, menunjukkan bahwa kesehatan tidak boleh dipandang sebagai urusan darurat semata. Penanganannya harus berjalan berlapis, dari pencegahan, deteksi dini, hingga penguatan layanan di daerah yang selama ini sulit dijangkau.

Beban Penyakit Masih Menekan Ekonomi Nasional

Meski Indonesia memasuki usia 80 tahun kemerdekaan, Hariqo menilai beban penyakit masih menjadi persoalan besar yang menekan kualitas hidup masyarakat sekaligus ekonomi nasional. Harapan hidup saat ini berada di kisaran 73 hingga 74 tahun, namun penyakit tetap menyedot produktivitas dan menggerus pertumbuhan.

Ia menyoroti sejumlah angka yang menunjukkan kesehatan sebagai isu ekonomi strategis. Studi menyebut kehilangan produktivitas akibat penyakit—baik karena absen kerja, performa menurun, maupun pensiun dini—sudah mengikis sekitar 6,5 persen PDB pada 2015. Jika tidak ditekan, dampaknya diperkirakan bisa naik menjadi 7,2 persen pada 2030.

Beban itu belum termasuk kerugian akibat merokok yang pada 2019 diperkirakan mencapai Rp184 triliun hingga Rp410 triliun, atau setara 1,16–2,59 persen dari PDB. Sementara itu, obesitas disebut menelan biaya sekitar Rp368 triliun, dan penyakit tropis seperti leptospirosis menguras lebih dari US$2,8 miliar setiap tahun.

“Data ini menegaskan bahwa berinvestasi dalam kesehatan bukan hanya sebagai pengeluaran sosial, tetapi sebagai aset ekonomi strategis,” kata Hariqo.

Ia juga menyoroti persoalan kesehatan anak, mulai dari diabetes, obesitas, hingga gigi berlubang, yang menurutnya banyak dipicu kurangnya informasi kesehatan. Di sisi lain, penggunaan gawai yang berlebihan turut berdampak pada kesehatan mata anak-anak.

Karena itu, CKG dinilai bukan hanya alat pencegahan, melainkan juga sarana pendidikan kesehatan yang bisa membantu masyarakat mengenali risiko lebih awal. Dengan masyarakat yang lebih sehat, pemerintah berharap angka partisipasi produktif meningkat, harapan hidup membaik, dan kontribusi sumber daya manusia terhadap pembangunan nasional ikut terdorong.

Hariqo menegaskan, jika angka penyakit bisa ditekan secara signifikan, pertumbuhan PDB pun berpeluang terdorong 1–2 persen per tahun. Dalam pandangannya, kesehatan bukan sekadar urusan medis, melainkan fondasi langsung bagi daya saing ekonomi Indonesia.

Source link