Pemberdayaan Warga Binaan di IPPA Fest 2025: Dirjenpas Ungkap Bukti Nyata

by -323 Views

Tangerang — Di tengah ruang gerak yang terbatas, warga binaan tetap diberi panggung untuk menunjukkan bahwa kreativitas tidak ikut dipenjara. Itulah semangat yang dibawa Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) lewat Inovasi Pemasyarakatan Produktif dan Aktif (IPPA Fest) 2025 yang digelar di Aloha PIK 2, Tangerang.

Panggung bagi karya warga binaan

Dengan tema Merdeka Beraktivitas walau Tempat Terbatas, IPPA Fest 2025 dirancang bukan sekadar sebagai ajang pameran, tetapi juga ruang untuk memperlihatkan hasil pembinaan warga binaan dalam bidang ekonomi kreatif. Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Mashudi, menyebut kegiatan ini sebagai bukti nyata bahwa pembinaan bisa menghasilkan karya yang bernilai dan punya daya saing.

Menurut Mashudi, penyelenggaraan IPPA Fest sejalan dengan visi Presiden dan program Kementerian Hukum, terutama dalam mendorong pemberdayaan warga binaan agar tetap produktif selama menjalani masa pembinaan. Pesan yang ingin ditegaskan sederhana: keterbatasan tempat tidak otomatis membatasi kemampuan untuk berkarya.

Melibatkan jaringan pemasyarakatan nasional

Kegiatan ini diikuti oleh 33 Kantor Wilayah Pemasyarakatan dan 627 Unit Pelaksana Teknis di seluruh Indonesia. Dari jaringan besar itu, ribuan karya UMKM dan seni hasil tangan warga binaan dipamerkan kepada publik. Mulai dari produk kerajinan hingga karya bernuansa seni, semuanya menjadi penanda bahwa pembinaan di lapas dan rutan juga bisa melahirkan keterampilan yang bernilai ekonomi.

Pengunjung yang datang tidak hanya disuguhi stan pameran. Mereka juga bisa mengakses layanan informasi dan kesehatan yang disiapkan selama acara berlangsung. Di sisi lain, peragaan busana batik ikut mencuri perhatian dan menambah warna pada festival yang mengusung semangat kemandirian tersebut.

Menjelang 80 tahun kemerdekaan

Digelar dalam rangka peringatan 80 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, IPPA Fest 2025 membawa pesan yang lebih luas dari sekadar seremoni tahunan. Acara ini menempatkan warga binaan sebagai subjek pembinaan yang mampu menghasilkan karya, bukan hanya sebagai objek pengawasan. Di tengah sorotan publik, festival ini memperlihatkan bahwa kreativitas tetap bisa tumbuh, bahkan di ruang yang paling terbatas sekalipun.

Source link