Sarjana Bersaing di Lowongan Petugas PPSU untuk Bertahan Hidup

by -362 Views

Persaingan kerja di Jakarta Timur kembali menunjukkan wajah paling kerasnya. Di Kelurahan Cipayung, ratusan orang berebut enam kursi petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU), sebuah posisi yang belakangan menjadi tumpuan banyak warga yang kehilangan pekerjaan. Dari 326 pelamar, sebagian besar datang dengan situasi serupa: baru terkena PHK dan harus segera mencari penghasilan untuk bertahan hidup.

Enam Posisi, 326 Pendaftar

Jumlah peminat yang membludak itu memperlihatkan betapa sempitnya ruang kerja yang tersedia saat ini. Meski lowongan PPSU hanya dibuka untuk enam orang, antusiasme pelamar tetap tinggi karena pekerjaan ini dipandang sebagai salah satu jalan cepat untuk kembali punya pemasukan. Di tengah kondisi ekonomi yang menekan, pekerjaan apa pun yang memberi kepastian gaji menjadi sangat berarti.

Sarjana Ikut Turun Bersaing

Salah satu pelamar, Khoirunnisa (21), menjadi gambaran paling jelas dari situasi tersebut. Ia mengaku tertarik melamar PPSU setelah terkena PHK dari tempat kerjanya pada awal tahun lalu. Sebagai mahasiswa jurusan ilmu komunikasi di sebuah universitas swasta di Jakarta, ia harus memikirkan cara agar tetap bisa membayar kuliah tanpa pemasukan tetap.

Khoirunnisa mengatakan sudah mencoba melamar ke berbagai perusahaan, mulai dari sektor jasa hingga perbankan. Namun, hingga kini belum juga mendapat panggilan yang benar-benar memberi kepastian. Karena itu, kesempatan menjadi petugas PPSU ia lihat sebagai pilihan realistis di tengah sulitnya mencari kerja.

PHK dan Semakin Sempitnya Pilihan

Fenomena ini menegaskan bahwa tekanan di pasar kerja tidak hanya dirasakan lulusan baru, tetapi juga mereka yang sudah memiliki pengalaman kerja. Saat ratusan orang berlomba untuk enam posisi, situasinya menunjukkan bahwa bertahan hidup kini sering kali lebih mendesak daripada sekadar memilih pekerjaan yang sesuai latar belakang pendidikan. Di Cipayung, lowongan PPSU bukan lagi sekadar rekrutmen biasa, melainkan cerminan kerasnya persaingan kerja yang memaksa banyak orang, termasuk sarjana, untuk mengejar peluang apa pun yang masih terbuka.

Source link