Qatar Setuju Negosiasi, Israel Tolak Tawaran Hamas

by -456 Views

Qatar kembali menjadi titik penting dalam upaya menghentikan perang di Gaza. Israel disebut telah menerima undangan dari Doha untuk mengirim delegasi dan melanjutkan pembicaraan dengan Hamas mengenai gencatan senjata serta pembebasan sandera. Namun, di balik sinyal positif itu, jalan menuju kesepakatan masih jauh dari mulus. Hamas menyatakan siap menyetujui gencatan senjata selama 60 hari, tetapi dengan sejumlah amendemen yang menuntut jaminan lebih kuat agar pertempuran tidak kembali pecah bila pembicaraan lanjutan gagal.

Hamas minta jaminan, Israel menolak perubahan

Dalam skema yang dibahas, Hamas disebut akan membebaskan sandera Israel dan menyerahkan jenazah sandera lain sebagai imbalan atas pembebasan tahanan Palestina. Selain itu, bantuan kemanusiaan dalam jumlah memadai juga diharapkan segera masuk ke Gaza dengan keterlibatan PBB dan Komite Palang Merah Internasional. Tetapi Hamas menegaskan, gencatan senjata tak boleh berhenti sebagai jeda singkat tanpa kepastian politik. Mereka meminta penarikan pasukan Israel dan jaminan bahwa operasi darat maupun udara tidak akan dilanjutkan setelah masa 60 hari berakhir.

Israel sebelumnya menolak amendemen yang diajukan Hamas. Sikap itu menunjukkan bahwa kedua pihak masih berbeda jauh dalam membaca makna “gencatan senjata”: Hamas menginginkan perlindungan dari kelanjutan serangan, sementara Israel tetap menuntut pembebasan seluruh sandera dan penghancuran kemampuan Hamas.

Serangan di Gaza terus memakan korban

Di tengah proses negosiasi yang belum pasti, serangan dan tembakan Israel di Gaza dilaporkan menewaskan sedikitnya 35 warga Palestina. Korban termasuk seorang dokter dan tiga anaknya. Situasi di lapangan juga semakin rumit setelah dua karyawan Amerika dari Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) terluka dalam serangan di wilayah Khan Younis. Rentetan peristiwa ini kembali menegaskan bahwa pembicaraan di meja perundingan berjalan beriringan dengan eskalasi yang masih berlangsung di lapangan.

Di dalam Israel, kesepakatan masih memicu perpecahan

Meski ada upaya mediasi untuk memastikan negosiasi berlangsung serius sejak awal dan membuka peluang perpanjangan gencatan senjata bila diperlukan, tidak semua pihak di Israel melihat kompromi sebagai pilihan yang layak. Sejumlah anggota kabinet juga menolak kesepakatan yang diusulkan. Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir bahkan menegaskan bahwa penaklukan penuh Jalur Gaza adalah satu-satunya cara untuk memastikan para sandera bisa kembali. Ia juga mendorong penghentian total bantuan kemanusiaan serta emigrasi penduduk Palestina.

Dengan posisi yang masih saling bertentangan, Qatar kini kembali memegang peran sebagai perantara yang mencoba menjaga pintu negosiasi tetap terbuka. Tetapi selama tuntutan dasar kedua pihak belum bertemu, pembicaraan itu masih lebih mirip adu keras kepentingan daripada jalan cepat menuju senjata yang benar-benar diam.

Source link