RI Ganjil Ekosistem Baterai EV: Jepang & AS Minat Beli

by -297 Views

RI Pacu Ekosistem Baterai EV Terintegrasi, Jepang hingga AS Disebut Tertarik Beli

Indonesia mulai menegaskan posisinya dalam peta industri baterai kendaraan listrik dunia. Presiden RI Prabowo Subianto baru saja meresmikan peletakan batu pertama proyek ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi terbesar di Asia di Karawang, Jawa Barat. Proyek ini tidak hanya besar dari sisi skala, tetapi juga dari ambisi: membangun rantai pasok baterai dari hulu ke hilir dalam satu ekosistem yang terhubung.

Produksi 15 GWh per Tahun Ditargetkan Penuh pada 2028

Di dalam proyek tersebut, pabrik sel baterai menjadi salah satu tulang punggung utama dengan kapasitas produksi total hingga 15 GWh per tahun. Operasi penuh fasilitas itu ditargetkan tercapai pada 2028. PT Indonesia Battery Corporation (IBC) menyebut sebagian hasil produksi akan diarahkan ke pasar ekspor, termasuk ke Jepang, India, China, dan Amerika Serikat.

Meski begitu, porsi ekspor tidak akan mendominasi seluruh produksi. Sekitar 30% dari total output diperkirakan dikirim ke luar negeri, sementara sisanya diserap pasar domestik. Skema ini menunjukkan bahwa industri baterai nasional tidak hanya dibangun untuk memenuhi permintaan global, tetapi juga untuk memperkuat kebutuhan dalam negeri.

Investasi Rp 96,04 Triliun dan Enam Usaha Patungan

Proyek raksasa ini digarap melalui kerja sama PT Aneka Tambang (Antam), PT Indonesia Battery Corporation (IBC), dan perusahaan China Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd. (CBL). Nilai investasinya mencapai US$ 5,9 miliar atau sekitar Rp 96,04 triliun. Skala investasi tersebut menempatkan proyek ini sebagai salah satu yang paling agresif dalam pengembangan industri kendaraan listrik di Indonesia.

Ada enam usaha patungan yang terlibat, mencakup seluruh rantai pengembangan dari hulu hingga hilir. Struktur ini membuat proyek tidak berdiri sebagai pabrik tunggal, melainkan sebagai ekosistem industri yang saling terhubung dan dirancang untuk menopang produksi jangka panjang.

Dari Nikel hingga Daur Ulang Baterai

Di sisi hulu, proyek mencakup pertambangan nikel, fasilitas pemurnian nikel, dan fasilitas pemrosesan nikel. Sementara di sisi hilir, rangkaiannya meliputi proyek material baterai, proyek sel baterai, hingga proyek daur ulang baterai. Ada pula dukungan dari fasilitas pemurnian nikel jenis High Pressure Acid Leaching (HPAL) yang ditujukan untuk memproduksi nikel dan cobalt.

Dengan struktur seperti ini, Indonesia tidak hanya mengejar status sebagai pemasok bahan mentah, tetapi juga ingin naik kelas menjadi pemain penting dalam rantai nilai baterai kendaraan listrik. Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, proyek ini berpotensi memberi dorongan besar bagi industri EV di berbagai negara sekaligus membuka ruang peningkatan kualitas sumber daya manusia di Indonesia.

Source link