Peringatan: Ekspor Magnet Tanah Jarang China Turun Drastis

by -403 Views

Ekspor magnet tanah jarang China kembali tergelincir pada Mei, memperlihatkan dampak langsung dari perang dagang yang belum juga mereda dengan Amerika Serikat. Data resmi yang dirilis pada Jumat menunjukkan arus keluar komoditas strategis itu terus melemah, setelah Beijing memperketat pengawasan ekspor sejak April. Bagi pasar global, penurunan ini bukan sekadar angka perdagangan, melainkan sinyal gangguan pada rantai pasok yang menyentuh industri otomotif, elektronik, hingga pertahanan.

Pembatasan Beijing mulai menekan arus ekspor

China, sebagai produsen tanah jarang terbesar di dunia, memainkan peran penting dalam penyediaan magnet yang digunakan di berbagai sektor vital. Namun, sejak April, pemerintah mewajibkan pedagang memperoleh lisensi sebelum mengekspor bahan-bahan strategis tersebut. Kebijakan ini muncul sebagai respons atas pembatasan impor dari Amerika Serikat dan kini mulai terlihat dampaknya pada data perdagangan.

Menurut data bea cukai China, ekspor magnet tanah jarang anjlok hingga 70% secara tahunan pada Mei, setelah sebelumnya juga melambat pada April. Sejumlah produsen, terutama dari industri otomotif, menilai proses penerbitan lisensi berjalan tidak konsisten dan menyulitkan kepastian pasokan.

Pasar Eropa ikut merasakan tekanan

Gejolak ini tidak hanya terasa di jalur perdagangan ke Amerika Serikat. Ekspor magnet tanah jarang China ke Uni Eropa juga tercatat turun tajam, yakni 81% pada Mei. Padahal, Beijing sebelumnya berencana membuka “saluran hijau” untuk mempermudah pengiriman tanah jarang ke kawasan tersebut.

Di tengah situasi itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan China akan memasok tanah jarang yang dibutuhkan setelah pembicaraan antara kedua negara di London. Meski begitu, data terbaru menunjukkan ketegangan dagang masih jauh dari selesai dan belum cukup untuk memulihkan ritme ekspor seperti sebelumnya.

Negosiasi masih berjalan, kepastian belum datang

Turunnya ekspor magnet tanah jarang menegaskan bahwa persaingan dagang antara China dan AS masih menyisakan risiko besar bagi industri global. Kedua pihak kini terus berupaya mencari jalan keluar melalui perundingan, dengan harapan lahir kesepakatan yang bisa diterima bersama. Namun, selama aturan ekspor masih ketat dan lisensi tetap menjadi hambatan, pasar tampaknya harus bersiap menghadapi pasokan yang belum stabil.

Source link