Jakarta Timur — Polisi bergerak menyusul viralnya dugaan perampasan mobil yang melibatkan sekelompok orang yang diduga debt collector di area Stasiun Whoosh Halim, Makasar, Jakarta Timur. Meski peristiwa itu sudah ramai di media sosial, penanganan awal di lapangan baru dilakukan setelah video perselisihan tersebut menyebar luas.
Tiga saksi dari warga sekitar diperiksa
Kapolsek Makasar, Kompol Sumardi, mengatakan pihaknya telah memeriksa tiga saksi yang merupakan warga sekitar dan sempat melihat langsung kejadian. Pemeriksaan ini dilakukan untuk merangkai kronologi awal, termasuk bagaimana perselisihan itu bermula dan siapa saja yang terlibat di lokasi.
Menurut Sumardi, polisi tidak berada di tempat saat peristiwa berlangsung. Namun setelah kasus ini menjadi sorotan publik, personel Polsek Makasar segera melakukan pengecekan tempat kejadian perkara untuk menelusuri keterangan yang beredar.
Viral dulu, baru ditindaklanjuti
Kasus ini pertama kali mencuat lewat video yang memperlihatkan adu mulut di kawasan Stasiun Whoosh Halim. Dalam rekaman yang beredar, tampak ketegangan antara pihak yang disebut debt collector dan pemilik kendaraan. Dari informasi yang tersebar, korban disebut sempat diancam dan diminta menyerahkan uang hingga puluhan juta rupiah.
Selain kepolisian, pihak Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) juga telah melakukan pengecekan dan meminta keterangan dari sejumlah saksi. Upaya ini dilakukan untuk memastikan rangkaian peristiwa di area stasiun dapat dipetakan secara jelas.
Korban belum membuat laporan
Hingga kini, korban belum datang ke pihak kepolisian untuk membuat laporan resmi. Kondisi itu membuat polisi masih mengandalkan hasil pemeriksaan saksi dan bukti video yang beredar sebagai dasar awal penelusuran.
Insiden tersebut akhirnya mereda setelah petugas keamanan Stasiun Whoosh dan seorang anggota TNI turun tangan di lokasi. Di tengah sorotan publik, muncul pula informasi bahwa salah satu pelaku yang diduga debt collector itu pernah terlibat dalam kejadian serupa pada 2023, meski informasi tersebut masih menjadi bagian dari rangkaian pendalaman.
Peristiwa ini kembali memantik perhatian publik terhadap cara penagihan yang berujung pada intimidasi di ruang publik, apalagi terjadi di kawasan transportasi yang semestinya menjadi area aman bagi penumpang dan warga sekitar.
Source link





