Proyek Energi Baru RI untuk Tekan Emisi

by -398 Views

Proyek Energi Baru RI Disiapkan untuk Menekan Emisi

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang menyusun langkah baru untuk memangkas emisi gas rumah kaca (GRK) lewat sederet proyek energi baru dan terbarukan (EBT). Arah kebijakan ini tidak hanya bertumpu pada pembangkit listrik berbasis energi bersih, tetapi juga membuka ruang bagi teknologi seperti nuklir, hidrogen, dan amonia dalam peta transisi energi nasional.

RUPTL 2025-2034 Jadi Pijakan Utama

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi mengatakan pemerintah sudah menetapkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 sebagai kerangka untuk mendorong peningkatan porsi energi baru dan terbarukan. Menurut dia, arah kebijakan ini menjadi bagian dari upaya menurunkan emisi GRK secara lebih terukur.

Melalui program energi terbarukan dan efisiensi energi, pemerintah menargetkan penurunan emisi GRK hingga 51%. Eniya juga menekankan bahwa target itu tidak bisa dikerjakan sendiri, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan agar komitmen Indonesia menuju 2030 dapat berjalan sesuai rencana.

Dorongan Menuju Energi Bebas Karbon

Dalam penjelasannya, Eniya mengaitkan agenda ini dengan target Indonesia menurunkan emisi sebesar 358 juta ton CO2 pada 2030. Untuk menuju net zero, pemerintah disebut mendukung konsep energi bebas karbon yang mencakup pemanfaatan hidrogen, amonia, serta pengembangan proyek nuklir baru dalam sistem kelistrikan nasional.

Indonesia sendiri memiliki sumber energi yang beragam, mulai dari batu bara, gas, hingga energi terbarukan. Tantangan utamanya kini bukan sekadar menambah pasokan energi, tetapi mengelolanya secara terpadu agar emisi bisa ditekan tanpa mengganggu kebutuhan listrik nasional.

Bioetanol dan Bioavtur Masuk Radar

Selain proyek-proyek besar tersebut, pemerintah juga tengah mempertimbangkan pengembangan bioetanol dan bioavtur. Opsi ini mengemuka setelah program biodiesel 40% atau B40 berjalan, dan menjadi bagian dari upaya memperluas bauran energi rendah emisi di luar sektor kelistrikan.

Dengan sejumlah skema itu, ESDM tampak ingin mempercepat transisi energi dari berbagai jalur sekaligus: dari pembangkit listrik, bahan bakar nabati, hingga teknologi masa depan seperti hidrogen, amonia, dan nuklir. Source link