AS-Iran Bahas Perjanjian Nuklir: Ancaman Militer Trump

by -394 Views

Perundingan nuklir antara Iran dan Amerika Serikat kembali digelar di Roma, Sabtu (19/4/2025), di tengah bayang-bayang ancaman militer dari Presiden Donald Trump jika jalur diplomasi gagal menghasilkan kesepakatan. Pertemuan ini menjadi salah satu momen paling sensitif dalam hubungan kedua negara yang sudah lama dipenuhi ketegangan, sekaligus menandai upaya baru untuk mencari titik temu setelah bertahun-tahun saling menekan.

Perundingan Tidak Langsung di Bawah Peran Oman

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dan utusan Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, dijadwalkan membahas isu nuklir melalui perantara Oman. Format tidak langsung ini menunjukkan bahwa jarak politik antara Teheran dan Washington masih sangat lebar, meski keduanya kembali membuka ruang dialog. Hingga kini, belum ada pertemuan langsung antara pejabat tinggi kedua negara sejak 2015, saat pemerintahan Barack Obama masih berkuasa.

Iran menegaskan tetap berkomitmen pada jalur diplomasi dan meminta pembicaraan menghasilkan kesepakatan nuklir yang dinilai adil serta masuk akal. Di sisi lain, Trump kembali menekankan sikap kerasnya agar Iran tidak memiliki senjata nuklir. Namun, Teheran berkukuh bahwa program nuklirnya digunakan untuk tujuan damai.

Sanksi, Tekanan Maksimum, dan Syariat Kesepakatan Baru

Negosiasi ini berlangsung dalam suasana yang tidak mudah setelah Washington kembali menerapkan tekanan maksimum terhadap Iran. Amerika Serikat meminta Iran menghentikan produksi uranium yang dicurigai dapat diarahkan untuk kepentingan senjata nuklir. Sebaliknya, Teheran menyatakan bersedia membatasi program nuklirnya jika sanksi dicabut, tetapi dengan syarat ada jaminan bahwa Washington tidak akan menarik diri dari kesepakatan di kemudian hari.

Persoalan kepercayaan menjadi inti dari kebuntuan ini. Iran sebelumnya juga telah melanggar kesepakatan 2015 terkait pengayaan uranium dengan memproduksi stok uranium di atas ambang batas yang disepakati bersama negara-negara Barat untuk program energi sipil. Langkah itu membuat hubungan kedua pihak makin rumit dan mempersempit ruang kompromi.

Roma Jadi Titik Uji Diplomasi

Di tengah situasi yang masih rapuh, Roma dipandang sebagai tempat penting untuk mengukur apakah dialog masih punya peluang nyata. Italia ikut mengambil peran sebagai salah satu negara yang mendukung proses negosiasi, sementara harapan agar pembicaraan ini mengarah pada suasana yang lebih tenang di Timur Tengah tetap terbuka. Untuk saat ini, yang dipertaruhkan bukan hanya isi perjanjian, tetapi juga apakah kedua pihak masih percaya bahwa diplomasi lebih kuat daripada ancaman.

Source link