Perbandingan Bunyi Alarm Sri Mulyani: Covid vs Sekarang

by -363 Views

Alarm Sri Mulyani: Tekanan Ekonomi Kini Mengingatkan pada Masa Covid, tapi Risikonya Berbeda

Gejolak ekonomi global kembali mengirim sinyal bahaya, dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengingatkan agar situasi ini tidak diremehkan. Menurutnya, tekanan yang muncul saat ini memang memiliki kemiripan dengan periode krisis sebelumnya, termasuk masa pandemi Covid-19, ketika ketidakpastian pasar melonjak tajam dan dunia usaha bergerak dalam keadaan serba waspada.

Kali ini, sumber tekanan datang dari perang dagang yang digencarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui penerapan tarif tinggi ke banyak negara, termasuk Indonesia, dengan besaran hingga 32%. Dalam pandangan Sri Mulyani, langkah tersebut ikut memicu kegelisahan pasar global yang tercermin dari lonjakan Volatility Index atau VIX Index hingga menyentuh level 50.

VIX Naik, Pasar Mulai Membaca Sinyal Bahaya

VIX Index kerap dijadikan barometer untuk mengukur seberapa besar ketakutan pelaku pasar. Ketika indeks ini melesat, artinya investor mulai melihat risiko yang lebih besar dan cenderung mengambil posisi defensif. Sri Mulyani menilai kenaikan VIX saat ini memang patut dicermati, meski belum separah fase paling kelam dalam sejarah krisis terakhir.

Ia membandingkan kondisi sekarang dengan masa pandemi, saat VIX sempat menembus level di atas 80. Artinya, walau gejolak hari ini cukup tajam, tingkat kepanikan pasar belum mencapai puncak seperti yang terjadi ketika Covid-19 mengguncang ekonomi dunia.

Resesi AS Jadi Kekhawatiran Baru

Sri Mulyani juga menyoroti meningkatnya kekhawatiran terhadap ekonomi Amerika Serikat. Sejumlah lembaga investasi global, termasuk JP Morgan dan Goldman Sachs, disebut menaikkan peluang AS masuk ke jurang resesi hingga 60%, dari sebelumnya masih di bawah 50%.

Perubahan proyeksi itu tidak berdiri sendiri. Kebijakan dagang yang agresif dinilai bisa menekan aktivitas ekonomi, memukul kepercayaan pasar, dan pada akhirnya menurunkan permintaan. Jika itu terjadi, dampaknya berpotensi merembet ke harga komoditas global yang ikut melemah.

Harga Komoditas Berpotensi Tertekan

Menurut Sri Mulyani, outlook ekonomi seperti ini biasanya berujung pada koreksi harga komoditas. Alasannya sederhana: ketika permintaan diperkirakan turun, pasar komoditas cenderung ikut menyesuaikan diri. Karena itu, tekanan yang muncul saat ini bukan hanya soal saham atau indeks volatilitas, tetapi juga menyangkut arah harga berbagai komoditas dunia.

Pesan yang ingin ditegaskan Sri Mulyani adalah kewaspadaan, bukan kepanikan. Situasi global sedang bergerak ke arah yang perlu dipantau dengan serius, terutama karena dampaknya bisa menjalar ke banyak negara, termasuk Indonesia, jika ketidakpastian terus membesar.

Source link