Bongkar Borok Food Estate: Amran Ungkap Gagalnya

by -362 Views

Bongkar Borok Food Estate: Amran Ungkap Gagalnya

Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyoroti satu masalah utama di balik mandeknya program food estate: teknologi yang tidak hadir secara masif dalam pengelolaannya. Menurut dia, tanpa lompatan teknologi, program lumbung pangan berskala besar itu sulit memberi hasil nyata dalam waktu singkat, apalagi bertahan dalam jangka panjang.

Teknologi Jadi Titik Lemah Food Estate

Amran menilai kegagalan food estate bukan semata soal niat atau besarnya lahan, melainkan karena pengelolaan yang belum didukung sistem modern. Ia menegaskan, program seperti ini tidak bisa berjalan dengan pola lama jika ingin menghasilkan produktivitas yang stabil. Karena itu, ia mendorong pelaku usaha yang tergabung dalam Kadin untuk ikut menanamkan investasi di sektor teknologi pertanian.

Di sisi lain, pemerintah disebut sudah menyiapkan alat dan mesin pertanian atau alsintan dengan anggaran triliunan rupiah. Fasilitas itu diarahkan untuk mendukung petani milenial agar proses produksi lebih efisien dan menarik minat generasi muda masuk ke sektor pertanian.

Targetkan Anak Muda Masuk Pertanian

Amran juga melihat petani milenial sebagai kunci penting untuk mengubah wajah pertanian Indonesia. Dengan keterampilan yang lebih akrab terhadap teknologi, generasi muda dinilai bisa membuat sektor ini lebih modern sekaligus menjanjikan dari sisi pendapatan. Skema ini diharapkan tidak hanya menambah tenaga kerja baru, tetapi juga menciptakan model pertanian yang lebih adaptif terhadap kebutuhan zaman.

Jejak Panjang Program yang Sering Dipersoalkan

Program food estate sendiri bukan hal baru. Amran mengingatkan bahwa gagasan serupa sudah muncul sejak era pemerintahan Presiden Soeharto. Namun, sejumlah proyek yang pernah dijalankan kerap berakhir dengan lahan yang tidak produktif. Kritik terhadap food estate juga terus bergulir pada era Presiden Joko Widodo, terutama karena hasilnya dinilai belum sebanding dengan besarnya ambisi yang dipasang.

Meski begitu, Amran menegaskan food estate tidak bisa diperlakukan sebagai proyek instan. Menurut dia, keberhasilannya bergantung pada kombinasi teknologi yang lebih masif, investasi dari dunia usaha, dan keterlibatan petani milenial yang benar-benar siap mengelola pertanian dengan cara baru. Source link