Jakarta kembali dihadapkan pada persoalan lama yang belum juga tuntas: tawuran antarpemuda. Di tengah upaya penanganan yang terus dilakukan, Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi DKI Jakarta Marullah Matali mengajukan pendekatan yang cukup tegas sekaligus sederhana, yakni memberi pekerjaan bagi koordinator atau pemimpin pemuda yang masih menganggur.
Menurut Marullah, tawuran tidak lahir semata-mata karena para pemuda gemar berkelahi. Ia menilai, banyaknya waktu luang tanpa aktivitas yang jelas kerap memicu keisengan, lalu berujung pada bentrokan. Faktor kemiskinan juga disebut ikut mendorong situasi tersebut, sehingga penanganannya tidak bisa hanya mengandalkan imbauan atau penertiban sesaat.
Waktu Luang dan Kemiskinan Jadi Sorotan
Marullah menekankan bahwa pemerintah perlu mencari cara untuk mengisi waktu para pemuda yang tidak terpakai dengan kegiatan yang lebih produktif. Salah satu gagasan yang ia dorong adalah membuka kesempatan kerja bagi mereka yang punya pengaruh di lingkungan pemuda, agar energi yang selama ini tersalurkan ke arah negatif bisa dialihkan ke hal yang lebih bermanfaat.
Ia menilai, jika pemuda diberi ruang dan tanggung jawab yang jelas, potensi gesekan di lapangan bisa ditekan. Pendekatan ini, menurutnya, lebih masuk akal dibanding hanya mengandalkan peringatan setelah tawuran terjadi.
Koordinasi hingga Tingkat Wilayah
Di sisi lain, Kepala Biro Pemerintahan Sekretariat Daerah Provinsi DKI Jakarta Fredy Setiawan telah berkoordinasi dengan berbagai pihak, mulai dari Wali Kota, Camat, hingga Lurah. Langkah itu ditempuh untuk memperkuat imbauan kepada masyarakat agar pencegahan tawuran bisa dilakukan sejak di tingkat wilayah.
Pemprov DKI Jakarta juga menggandeng Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), serta tokoh agama. Sosialisasi dilakukan kepada masyarakat, termasuk menyampaikan hal-hal yang perlu dihindari selama bulan Ramadhan agar situasi tetap kondusif dan tidak memicu bentrokan antarwarga.
Kasus Tawuran Masih Berulang di 2025
Upaya pencegahan ini menjadi penting karena tawuran masih berulang di Jakarta sepanjang 2025. Salah satu insiden yang paling disorot terjadi di Penjaringan, Jakarta Utara, pada Minggu (9/2), dan menewaskan satu orang serta melukai tiga lainnya.
Rentetan kejadian tersebut menunjukkan bahwa persoalan tawuran belum bisa dianggap selesai hanya dengan pendekatan keamanan. Pemerintah kini dituntut mencari langkah yang lebih menyentuh akar masalah, terutama pada kelompok pemuda yang paling rentan terseret ke dalam konflik jalanan.





