Petani di Negara Tetangga RI Menyerang 125 Buaya Langka Karena Ini

by -462 Views

Jakarta, CNBC Indonesia – Badai besar yang menghantam Thailand utara memicu keputusan ekstrem dari seorang peternak buaya: membunuh 125 buaya Siam yang terancam punah demi mencegah hewan-hewan itu lepas ke lingkungan sekitar. Langkah ini diambil setelah topan merusak kandang dan membuat situasi di peternakan tak lagi aman untuk dipertahankan.

Kandang Rusak, Pilihan Makin Sempit

Peternak bernama Natthapak Khumkad awalnya berupaya mencari lokasi baru untuk memindahkan seluruh buaya. Namun, upaya itu tidak mudah. Tidak ada kandang lain yang cukup besar atau benar-benar aman untuk menampung hewan-hewan tersebut, sebagian di antaranya memiliki panjang hingga 4 meter.

Dengan tembok kandang terancam runtuh akibat erosi dan hujan deras, Natthapak akhirnya memilih langkah yang menurutnya paling aman bagi warga sekitar. Pada 22 September 2024, ia memutuskan membunuh 125 buaya itu untuk mencegah potensi pelarian dan serangan ke masyarakat.

Keputusan Sulit Demi Keselamatan Publik

Natthapak mengaku keputusan tersebut sangat berat, tetapi risiko yang ditimbulkan jika buaya-buaya itu lolos dinilai jauh lebih besar. Ia mengatakan dirinya dan keluarga harus mempertimbangkan keselamatan orang lain bila tembok kandang benar-benar ambruk.

"Keluarga saya dan saya berdiskusi jika tembok itu runtuh, kerusakan pada orang lain jauh lebih besar dari yang bisa dikendalikan. Itu melibatkan kehidupan orang dan keselamatan publik," kata Natthapak, dikutip dari CNN Internasional, Sabtu (28/9/2024).

Ia juga menyebut waktu pengambilan keputusan sangat singkat karena kondisi tanah terus terkikis. "Saya harus membuat keputusan dalam waktu kurang dari 24 jam saat melihat erosi sangat cepat," ujarnya.

Dukungan dari Otoritas Perikanan

Seluruh buaya tersebut dibunuh dengan cara disetrum. Salah satunya adalah Ai Harn, buaya jantan tertua di lokasi itu, dengan panjang mencapai 4 meter. Keputusan Natthapak turut mendapat dukungan dari kepala kantor perikanan Lamphun, Pornthip Nualanong.

Pornthip menjelaskan, pihak peternakan sudah lebih dulu memberi tahu kantor perikanan saat hujan lebat mulai mengancam kandang. Menurut dia, langkah itu bisa dipahami sebagai upaya mencegah ancaman yang lebih besar bagi warga di sekitar area peternakan.

"Ini adalah keputusan berani dan bertanggung jawab, karena jika ada buaya dewasa yang berkeliaran bebas di sawah di dekatnya, itu akan menimbulkan risiko pada keselamatan publik," jelasnya.

Kasus ini terjadi di tengah dampak Topan Yagi yang menghantam China selatan dan Asia Tenggara pada bulan ini. Badai tersebut disebut sebagai yang terkuat tahun ini, membawa hujan tinggi dan angin kencang yang memicu banjir di Thailand utara. Sejumlah rumah hingga desa di tepi sungai ikut tenggelam, dan 9 orang dilaporkan menjadi korban.

(npb/wur)

Sumber: CNBC Indonesia, dikutip dari CNN Internasional