Kepemimpinan dari Letnan Jenderal TNI (Purn) Adolf Sahala Rajagukguk

by -402 Views

Oleh: Prabowo Subianto [diambil dari Buku Kepemimpinan Militer 1: catatan dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto]

Saat pertama kali saya mengenal Pak Sahala Rajagukguk adalah ketika saya masih menjadi Letnan Satu, dan menjadi komandan Kompi pada operasi dengan sandi Nanggala 28, di Timor Timur, pada tahun 1978. Kami menjadi cadangan pemukul di bawah kendali operasi Komandan Sektor Timur, Kolonel Infanteri Raja Kami Sembiring Meliala.

Pertemuan pertama dengan Pak Sahala terjadi di kompleks gedung sekolah yang telah diambil alih oleh TNI, di pinggir sungai di sektor tengah di suatu sore hari. Saya mendapat briefing dari Letnan Kolonel Sahala Rajagukguk, dimana beliau memberikan koordinat yang harus saya capai dan memberikan perintah untuk tidak memaksa anak buah saya melebihi kemampuan mereka. Perintah tersebut memberikan beban yang begitu berat dilepas dari pundak saya, dan mempengaruhi moril saya dan anak buah saya agar berjalan lebih hati-hati.

Ketika kami sampai di sasaran, saya mendapat perintah lewat radio untuk segera kembali ke Soibada. Setelah turun dari helikopter, saya langsung bertemu Pak Rajagukguk. Beliau memberi saya peta dan perintah untuk mengejar pasukan inti presiden musuh, Nicolau Lobato.

Kepemimpinan dan ketenangan Pak Sahala dalam memimpin operasi anti gerilya memberikan banyak pelajaran bagi saya. Bagaimana beliau menggunakan rakyat, dan tawanan-tawanan musuh, serta musuh yang beralih bergabung dengan kita sebagai sumber informasi. Beliau juga menunjukkan ketelitian mengumpulkan keterangan dan penyusunan tim narasumber. Beliau juga tidak pernah menekan pasukan, atau memaksa mereka melebihi kemampuan, sehingga anak buahnya tidak terlalu kelelahan atau kelewat stres.

Hal tersebut merupakan pelajaran berharga bagi saya tentang kepemimpinan lapangan. Di situ saya belajar bahwa kadang-kadang hanya dengan koordinat di peta, petunjuk-petunjuk yang ringkas, pasukan harus tahu apa yang dilakukan. Keseluruhan pengalaman ini sangat berharga bagi saya dalam mengembangkan kemampuan memimpin dalam karier saya.